Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

31 - Five Stages of Grief : Acceptance

272 19 0
                                        

"Maaf."

Lututnya menyentuh lantai yang dingin. Ia menyatukan kedua tangan ketika tubuhnya mulai gemetar. Ardelle sedang menguatkan dirinya sendiri.

Carlina Denzel sudah tampak berurai air mata, sedangkan Johannes Denzel hanya menatapnya dengan sedih.

"Cade...anakku satu-satunya. Kau tahu itu?"

Ardelle mengangguk. "Maaf."

Tidak ada kata lain yang terucap selain maaf. Terkadang, orang-orang tidak peduli dengan kata pengampunan tersebut. Mereka hanya ingin perbuatan setimpal untuknya.

"Kami mungkin akan memaafkanmu, Elle. Tapi kami tidak akan pernah melupakan ini. Cade, bagiku dia adalah anakku yang berharga. Untuk melupakan anak kami sepertinya bukan hal yang baik."

Artinya mereka tidak akan memaafkannya dengan tulus. Ardelle melihat ketika empat kaki itu menjauh darinya. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya. Mansion keluarga Denzel yang dulu sering ia singgahi, berubah menjadi rumah yang asing.

Mungkin Denzel tidak akan memaafkannya, namun sama dengan ia yang tidak pernah damai dengan dirinya sendiri.

Fred datang untuk merangkul pundaknya.

"Ardelle," panggilnya ketika Ardelle menahan badannya untuk berdiri.

"Maaf, Grandpa."

"Untuk apa?" tanya Fred.

"Karena aku membunuh Matthew."

Tidak ada dipikiran Ardelle bahwa ia akan berlutut kepada kakeknya sendiri. Namun, ayahnya yang merupakan anak dari Fred membuat Ardelle harus melakukan ini. Ia sudah membunuh dua permata yang berharga. Dua permata yang melindungi rongsokan sepertinya.

"Aku tidak suka jika kau berlutut seperti ini, Ardelle."

"Aku juga tidak suka. Tapi aku harus melakukannya. Setidaknya agar hatiku sedikit tenang," sahut Ardelle. Ia tersenyum sinis ketika mendengar suaranya yang bergetar.

"Kau sudah melakukannya, sekarang berdiri." Fred hampir membentak. Melihat Ardelle berlutut di depan orang laim serta di depannya terasa menyakitkan. Sama halnya seperti kematian Matthew.

"Aku tidak melakukan apapun saat mereka mati. Aku hanya terdiam, tanpa membantu sedikit pun. Aku membayangi kejadian itu selama berbulan-bulan, hingga merusak jam tidurku...hingga obat-obatan itu...hingga lelah. Aku lelah, Grandpa."

"Istirahatlah jika lelah."

***

Ardelle terdiam di ruangan asing sembari meminum wine. Setelah beberapa menit, ia keluar dari gedung tersebut dan berjalan hingga Times Square. Persimpangan itu tampak penuh sesak mengingat ini hampir tengah malam. Matanya melihat seseorang dengan ransel kecil di punggungnya. Ardelle mendekat lalu mencengkram tangan pria yang hampir ingin mencuri isi tas yang terbuka. Ia hanya menatapnya tajam dan meengeratkan jemarinya pada perampok itu.

"Miss, dia ingin mencuri isi tasmu," ucap Ardelle sembari mengetuk pelan bahu perempuan tinggi di sampingnya. Perempuan itu membalikkan badannya dengan cepat dengan mata yang segera melirik tasnya yang terbuka.

Perampok itu menghempaskan tangan Ardelle dan kabur. Perempuan di sampingnya membelalakkan matanya.

"Apa dia berhasil mencuri isi tasku?" tanyanya panik.

Ardelle menggeleng pelan membuat perempuan itu menghela nafas lega. Ia kembali menutup tasnya dengan rapat lalu memutar tas itu di bagian depan dadanya. Perempuan itu tersenyum lebar.

Blue EyesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang