— FLASHBACK
Ardelle mengendarai mobil dengan senandung irama Four Seasons dari Vivaldi. Ia melirik ayahnya yang duduk dibelakang. Terlihat matanya menuju benda persegi yang berada di tangannya. Hari ini adalah tanggal 17 Oktober, hari lahir ayahnya.
"Dad! Ini ulang tahunmu, kenapa kau harus bekerja?!" pekiknya kesal ketika ayahnya sama sekali tidak menikmati hari lahirnya.
Ia lalu melirik Cade yang duduk di samping. Pria itu juga larut dalam ponselnya. "Cade," rengeknya.
"Perhatikan jalan, amoré," ucap Cade, namun kepalanya sama sekali tidak menoleh.
"Dasar!" desisnya kesal.
Cade langsung mengambil tangan Ardelle yang berada di kemudi. Ia mengecup kecil dari ujung jari hingga lengan atasnya dengan cepat, membuat Ardelle tertawa geli.
"Cade!" pekiknya sembari tertawa.
"Berhentilah kalian berdua. Tidak ada Diana di sini," desah Matthew sedih karena Diana tidak bisa ikut karena sedang demam. Namun istrinya itu tetap memaksanya agar ia pergi. Bahkan Joey juga tidak bisa akibat mendadak syuting. Jauh sebelum hari ini, mereka janji akan membuat acara makan malam untuk ulang tahun Matthew. Sayangnya, hanya Cade, Ardelle, dan Louis yang menepati janji.
"Maaf Dad, tapi Daddy memang terlihat menyedihkan," ujar Ardelle sembari melipat bibirnya ketika ia ingin tertawa lagi.
Matthew mendengus. "Di mana Louis?"
Cade melirik spion yang berada di pintunya. "Di belakang," ucapnya singkat lalu kembali melirik ponselnya.
"Cade, berhenti menatap—" Hampir saja ia menepis ponsel Cade ketika pria itu berteriak senang.
"Penonton Fallin' sudah sampai lima juta!" pekiknya senang. Ia menarik kepala Ardelle dan mengecup pipinya berkali-kali.
Ardelle yang tiba-tiba ditarik dengan refleks menginjak rem dengan kencang. Ia mengerutkan dahinya. Ardelle membelokkan stirnya dengan cepat ketika ia hampir menabrak mobil depan, walaupun ia harus mendapat makian dari klakson mobil lain.
"Ardelle, jangan menyetir seperti itu," ucap Matthew. Ia kembali menarik badannya yang limbung ke samping.
"D-Dad."
"Ada apa?" Dahinya mengerut karena mendengar suara Ardelle yang bergetar.
"Remnya—tidak bisa." Ardelle mulai terengah. Tangannya mulai gemetar.
Cade dengan segera mengutak-atik mobil tersebut. Ardelle bahkan tidak tahu apa yang dilakukan kekasihnya karena ia harus menatap ke depan. Jalur sudah mulai memasuki jembatan, tetapi mobil malah semakin kencang.
Matthew segera menghubungi Louis yang berada di belakang agar pria itu mencoba menghentikan dari depan.
"Ya, sir?" jawab Louis dari seberang sana. Namun Matthew tidak menjawab balik. Mata birunya menatap mobil-mobil di depan yang mulai berhenti akibat macet.
"Banting stirnya," bisik Matthew.
"DAD—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Eyes
Romance#1 in your eyes Ardelle Cavanaugh, hanya perempuan biasa di mata birunya. Namun di mata orang, ia adalah pengatur di keluarga Cavanaugh. Tiga tahun menetap di New York membuat bebannya berkurang. Namun, bertemu Marshall El Blackton sepertinya merupa...
