Semua orang tampak berpakaian hitam, terasa sangat suram namun awam bagi kematian. Pagi hari ini, mereka memakamkan Martin Cavanaugh, pamannya, beberapa blok dekat ayahnya. Langit terlihat berawan ketika Ardelle mendongak ke atas. Tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya membuat Ardelle menoleh.
"Kau terlihat pucat, Elle," ucap Christian dengan khawatir. Ardelle hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Lalu berpikir bahwa kakaknya sangat pintar dalam memilih suami. Christian Gregory terlihat menyayangi Joey, istrinya. Dari gerak-geriknya, Ardelle tahu bahwa lelaki itu sangat tulus. CEO dari perusahaan arsitektur itu menjauh darinya dan sedang berbisik kepada Joey.
Netra birunya bergerak. Rose Cavanaugh terlihat syok di samping makam suaminya. Ia pernah melihat bibinya semengerikan itu saat ayahnya meninggal. Sedangkan Isaac berusaha menguatkan Rose, namun ia sendiri juga terlihat rapuh. Ardelle mengenal pemandangan ini. Seperti saat ayahnya meninggal. Joey yang memeluk Diana tepat di samping makam lalu dirinya berada di barisan belakang, dirangkul oleh kakeknya.
"Elle, ayo pulang," ucap Joey sembari merangkulnya dengan erat, seolah takut kalau ia terjatuh. Sedangkan Christian berjalan di belakang mereka. Sepertinya pria itu mengadu pada kakaknya karena ia terlihat pucat.
Mobil Louis terlihat berhenti ketika mereka hampir sampai. Laki-laki itu berlari ke arah mereka. "Ada apa?" tanyanya sembari terengah.
"Louis, bisakah kau mengantar Ardelle pulang terlebih dahulu? Sepertinya ia tidak terlihat sehat," ucap Joey.
"Ya, tentu."
"Ia baru saja sampai, Joey. Setidaknya biarkan ia menyapa paman," protes Ardelle dengan kerutan di dahinya.
"It's okay. Aku akan menyapanya nanti," sahut Louis.
Louis segera mengangkat badannya. Setelah menurunkannya di kursi mobil, pria itu lalu memutar ke bagian kemudi. Ardelle melirik dari sudut matanya. Louis terlihat lelah, seperti tidak tidur semalaman. Raut wajahnya juga menunjukkan sedih. Tangan Ardelle terangkat. Ia mengusap noda di rahang Louis dengan lembut.
"Ada apa di sana?"
"Tidak ada. Hanya noda kecil yang sepertinya harus dihilangkan jejaknya." Ardelle masih menatap Louis. "Louis," panggilnya.
"Ya?" Pria itu sedari tadi enggan menatap matanya. Ia melarikan netranya dan memilih menatap stir yang ada di depannya.
"Kita sudah mengenal lama. Kau mempunyai aku jika kau ingin bercerita."
Louis mengeratkan pegangannya pada kemudi. Ia lalu tersenyum dan akhirnya menoleh untuk menatap Ardelle. Jemarinya naik mengelus pipi perempuan di sampingnya.
"Kau terlihat sangat pucat," ucapnya. Ia lalu mendekat dan mengecup pipi Ardelle.
"Ya, aku hanya mempunyaimu," bisik Louis.
Ardelle menatap lekat ketika Louis terlihat resah.
"Ada yang kau sembunyikan padaku?"
Entahlah. Mulutnya langsung berbicara tanpa berpikir.
***
Marshall Blackton spotted with his fiance, Flair Cannavah at the beach.
Rest in peace, Martin Cavanaugh. Brother from Matthew Cavanaugh.
The Genius Girl, Ardelle Cavanaugh is back!
Headline berita di ponselnya membuat Ardelle menaruh benda itu. Bagaimana foto Marshall di pantai bersama Flair, foto pamannya, bahkan ia sendiri yang sedang di rangkul oleh Joey. Suaranya mendesis, merasa pengawal yang sudah ia sebar untuk menghalau wartawan masih saja gagal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Eyes
Romance#1 in your eyes Ardelle Cavanaugh, hanya perempuan biasa di mata birunya. Namun di mata orang, ia adalah pengatur di keluarga Cavanaugh. Tiga tahun menetap di New York membuat bebannya berkurang. Namun, bertemu Marshall El Blackton sepertinya merupa...
