"Kau benar-benar kembali rupanya."
Ardelle menoleh dan menatap bibinya yang tersenyum palsu ke arahnya. "Senang bertemu dengan, Bibi," sapanya.
"Aku tidak."
Ardelle hanya mengangkat salah satu alisnya lalu mengambil sparkling wine ketika salah satu pelayan berhenti di sampingnya. Rose Cavanaugh tersenyum cerah.
"Aku harap kau baik-baik saja selama tiga tahun ini," ucap Rose.
"Tentu aku baik, Bibi. Jika tidak, aku tidak bisa berdiri di sini dan kembali memimpin Cavanaugh Group."
Rose mengepalkan tangannya ketika Ardelle menunjukkan statusnya saat ini.
"Apa bibi masih bercita-cita untuk memiliki Cavanaugh Group?" tanya Ardelle. Tangannya memutar gelas wine itu dengan anggun.
"Cavanaugh Group tidak cocok dipimpin oleh perempuan sepertimu. Kabur selama tiga tahun? Sungguh sangat egois meninggalkan semuanya terbengkalai," ujar Rose dengan sinis.
"Jangan seperti itu, Bibi. Bibi tahu kalau aku sudah menaruh orang kepercayaanku untuk memimpin selama aku tidak ada." Ardelle hendak meminum wine di tangannya, namun terhenti ketika bibirnya menyentuh gelas.
"Mempercayai perusahaan dengan orang luar?! Apa kau tidak takut mereka mengambil perusahaan kita?!" bentak kecil Rose. Ia berusaha menahan suaranya, namun orang-orang di dekat mereka mulai menoleh.
"Kita harus membicarakan ini di luar." Rose berjalan pergi begitu saja. Mata birunya tak sengaja menatap Isaac berdiri sembari meminum winenya dengan matanya yang menatap dirinya. Ardelle segera mengangkat winenya di udara untuk menyapa Isaac lalu segera berjalan mengikuti Rose. Ketika ia berjalan, Ardelle merasakan sebuah tangan hinggap di pinggangnya membuat ia menoleh. Isaac berjalan di sampingnya.
Wajah Ardelle semakin datar. "Apa kalian ingin mengeroyokku?"
"Tidak," jawab Isaac. "Bukankah hari ini winenya nikmat?"
"Tentu," jawab Ardelle.
Langkahnya terhenti dekat dengan kolam. Rose berdiri tegak dengan matanya yang mengkilat sinis. Sama sekali tidak membuat Ardelle takut sedikitpun.
"Biarkan Isaac memimpin perusahaan," ucapnya tanpa basa-basi.
"Apa Bibi tidak lelah mendengar pernyataanku. Cavanaugh Group adalah milikku. Aku tidak akan menyerahkannya kepada siapapun. Mengerti?"
"Perempuan sepertimu sama sekali tidak mengerti tentang bisnis!" bentak Rose. Kali ini wanita paruh baya itu sama sekali tidak menahan intonasi ucapannya.
"Kau kira tiga tahun aku pergi hanya hidup dengan santai?!" Ardelle mengeratkan pegangannya pada wine.
"Tiga tahun terbuang oleh aktivitasmu yang tidak jelas-"
"Oh? Apa Bibi menyewa orang demi diriku? Aku sangat menghargai itu, Bibi." Ardelle tertawa keras hingga tangannya memegang perutnya yang sakit. "Apa Bibi lupa kalau aku adalah jenius?"
Rose kembali mengepalkan tangannya. Ardelle tidak membual dengan ucapannya. Ardelle Cavanaugh memang orang yang jenius. Menguasai piano dan biola, Ardelle terkenal dengan permainannya yang menggetarkan hati. Tentu Rose mengetahuinya karena semua media menyebut Ardelle sebagai orang jenius. Bahkan semua bidang akademik Ardelle kuasai dengan mudah. Tak heran sekolah sering menyuruhnya untuk mengikuti olimpiade. Keluarga besar Cavanaugh memang sangat sempurna berkat Ardelle. Bahkan media masih mempertanyakan dirinya ketika ia tiba-tiba menghilang setelah ayahnya meninggal.
"Berhentilah meminta perusahaan, Bibi. Apa Paman tidak cukup untuk menafkahi Bibi padahal ia sudah kuberi jabatan direktur?" Ardelle menatap wine yang ia pegang. "Dan lain kali, lakukan dengan baik jika kalian ingin meracuniku. Bahkan aku masih bisa melihat serbuk-serbuk itu di dalam wine-ku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Eyes
Romance#1 in your eyes Ardelle Cavanaugh, hanya perempuan biasa di mata birunya. Namun di mata orang, ia adalah pengatur di keluarga Cavanaugh. Tiga tahun menetap di New York membuat bebannya berkurang. Namun, bertemu Marshall El Blackton sepertinya merupa...
