Shane mempercepat langkah kakinya. Di tangannya terdapat tas berisi kotak makan untuk malam ini. Ardelle sendiri memilih untuk kembali tinggal di flat kecilnya, tentu bersama dirinya. Shane menginjak tangga terakhir lalu melangkah pelan ketika sudah mencapai lantai 2. Jujur saja, ia sangat khawatir dengan keadaan nonanya. Kemarin ia mendapat laporan dari Camille kalau Ardelle menangis semalaman hingga model tersebut ikut jatuh sakit akibat menjaga nonanya.
Mata berwarna hitam itu mengerjap ketika kepulan asap keluar dari bawah pintu. "Nona!" teriaknya dan membuka pintu dengan panik.
Suara pemadam seketika berbunyi nyaring dengan keluarnya air dari atas. Ardelle hanya berdiri dan tampak meneguk wine langsung dari botol. Tubuhnya menghadap ke arah piano yang penuh dengan api.
"Ada...apa di sini?" tanyanya mendekat ke arah Ardelle.
Mereka berdua sama sekali tidak terusik dengan jatuhnya air dari atas. Teriakan yang terdengar jelas dengan suara kaki berlari turun membuat Shane menoleh. Namun, nonanya sama sekali tidak peduli. Ia tampak acuh dan kembali meneguk wine. Shane melihat mata birunya menyaksikan api yang kian padam.
Ardellen menghela nafas keras lalu mendongak ke atas, membiarkan rintik air tersebut jatuh mengenai wajahnya. Berharap bahwa bentakan Marshall yang sedang berputar di kepalanya ditambah masalah lain akan hilang seiring jatuhnya bulir air dari kulit pucatnya.
"Sepertinya aku salah membakarnya di sini," ucap Ardelle sedikit keras karena teriakan orang-orang masih terdengar.
Memang salah, batin Shane dengan ringisan di wajahnya. "Nona, sepertinya kita akan mengeluarkan ganti rugi yang cukup tinggi untuk orang yang tinggal di sini dan pemilik gedung," ujar Shane.
"Pemilik gedung? Aku baru saja membeli gedung ini setelah kau keluar."
Shane menatap Ardelle dengan horor. Ia lalu berdeham dan menatap sekeliling. Tempat ini sangat kosong bagi seseorang yang sudah tinggal lama di negeri orang. Mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu, tetapi suara Ardelle lebih cepat.
"Kau turun saja lalu bagi uangnya. Dan, kita harus membeli ranjang," ucap Ardelle lalu menjatuhkan botol kosong itu ke lantai. Shane kembali meringis mendengarnya. Untung saja botol tersebut tidak pecah.
"Apa nona tidak ingin pulang?" Shane mengusap bulir air di wajahnya dengan lengan.
"Aku akan sedikit bersenang-senang di sini. Shane," panggil Ardelle. Ia menoleh ke arah sekretarisnya. "Aku lupa membawa sesuatu," ucapnya.
"Apa nona?"
Shane mengerjapkan matanya ketika ia melihat bentuk tangan Ardelle. Matanya kembali menatap nonanya dengan horor. Sebuah pistol.
"Ayo kita beli satu."
Ia tahu nonanya hanya ingin melakukan sesuatu untuk menghilangkan pusingnya. Tetapi kenapa harus pistol?
Kenapa tidak mabuk saja?
Ardelle membiarkan Shane menghela nafas dan berjalan menuju jendela. Ia menyipit ketika menangkap sebuah kilauan. Ujung bibirnya naik bersamaan dengan ia yang menghapus sisa wine di mulutnya.
***
Seorang pria duduk dengan santai sambil melipat satu kakinya ke atas. Kemeja hitam yang membalut tubuhnya yang berotot bahkan bisa membuat para wanita menahan nafas. Lengan kemeja yang digulung asal, tiga kancing atas yang terbuka, serta rambut yang sudah tidak rapi sama sekali tidak membuat ketampanannya berkurang sekalipun. Ia menghela nafas sembari telunjuknya yang terus memindah channel CCTV yang sedang ia lihat. Kedua matanya segera menyipit ketika menemukan sesuatu di layar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Eyes
Storie d'amore#1 in your eyes Ardelle Cavanaugh, hanya perempuan biasa di mata birunya. Namun di mata orang, ia adalah pengatur di keluarga Cavanaugh. Tiga tahun menetap di New York membuat bebannya berkurang. Namun, bertemu Marshall El Blackton sepertinya merupa...
