Pacar Jeno

1.2K 95 0
                                        

Soobin yang ingin keluar rumah menghentikan langkah nya melihat Karina duduk jongkok di teras dan menjulurkan tangan nya hingga terkena guyuran hujan. Melihat itu Soobin tersenyum ada-ada saja Karina ini wajah judes tapi tingkah nya menggemaskan seperti anak kecil. Soobin langsung menghampiri Karina hendak mengageti tapi justru dia yang terkejut karena Karina tiba-tiba berdiri.

"Astaghfirullah untung gak jatoh."

Karina sedikit memincingkan matanya. "Lo mau ngagetin gue ya?" tebak nya membuat Soobin langsung terkekeh. "Lo juga ngapain si duduk di situ."

"Kepo." Karina hendak masuk kerumah tapi terhenti melihat penampilan Soobin yang rapi menggunakan kemeja berwarna biru laut dan celana jeans. "Lo mau pergi?"

"Iya mau ke Pushpan."

"Kan ujan?"

"Pake mobil kok jadi gak ke ujanan. Kenapa? lo mau nitip sesuatu." Sungguh sangat pekat Mas Soobin ini.

"Mau ikut aja boleh gue pengen beli ice cream sekalian mau beli perlengkapan buat kuliah besok." Seharusnya Soobin bisa saja langsung menyetujui nya toh mereka searah kalaupun berbeda arah juga tetap saja si Soobin setuju pergi bersama, hanya saja melihat Karina dari jarak sedekat ini membuat Soobin terdiam karena Karina secantik itu.

Astagfirullah batin Soobin

"Kalok gak bisa gak papa si."

"Bisa kok lo siap-siap aja gue panasin mobil dulu."

Karina tidak membutuhkan waktu lama untuk bersiap-siap dia hanya mengambil tas selempang kecil nya. Saat melewati ruang tamu dia sedikit tersenyum sekedar menyapa Jeno dan Haechan.

Haechan dan Jeno langsung tersenyum lebar membalas nya. Mereka yang duduk di ruang tamu tentu saja melihat itu semua. Iri tentu saja sejak kemarin hanya Karina yang tidak banyak ikut kedalam obrolan dia hanya di dalam kamar saja bagaimana bisa pendekatan kalau begitu. "Kalok Soobin juga ngincer Karina gue mundur aja lah."  Haechan berkata dengan lesu pasal nya dirinya dengan Soobin tentu saja jauh berbeda ibarat nya Soobin buah Anggur dia hanya buah duku tapi gak ada korelasinya juga.

"Lo emang harus mundur Chan biar gue aja yang maju."

"Ssstttttt." Haechan dan Jeno langsung mengeluarkan kata-kata mutiara mereka saat mendengar bisikan tepat di telinga mereka. Mereka berdua kira itu adalah mba kunti penunggu rumah tapi ternyata itu adalah noni Belanda rambut pirang.

"Si Nagyung halal banget emang di slepet lo ngagetin anjir," pekik Haechan karena terkejut.

Tanpa rasa bersalah Nagyung langsung duduk di tengah-tengah Haechan dan Jeno. Membuat mereka berdua mau tidak mau sedikit bergeser.

"Ya lo berdua aneh bener duduk deketan sambil bisik-bisik kayak homo aja lo berdua. Ngapain si kalian lagi rencanin sesuatu atau lagi ngincer cewek mana lagi."

"Mereka berdua lagi ngiri ama Soobin yang pergi ama Karina, Na." Yeji tiba-tiba ikut bergabung di ruang tamu.

"Sotoi lu," bantah Haechan.

"Gue dari tadi berdiri di belakang kalian ya jadi tau."

"Oh kalian berdua mau ngincer Karina. Tapi kalok di pikir Soobin pacar idaman juga si gak kayak buaya liar. Udah ganteng, kaya, pinter, sopan, rajin gak suka tebar pesona ama gombal buset sempurna amat itu jodoh orang." Nagyung geleng-geleng setelah mengabsen kelebihan Soobin.

"Anak Kedokteran lagi," tambah Yeji membuat Nagyung mengangguk semangat. "Emang mantu idaman."

"Udah gak usah di pikirin kelebihan jodoh orang gak bakal tercapai," potong Jeno membuat Nagyung tertawa hambar. "Iya bener banget."

Ruber 00lTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang