Selamat Ulang Tahun

420 51 8
                                        

"Kopi sama pisang goreng tu emang cocok banget ya kombinasi yang pas," celetuk Sunwoo yang baru datang ikut duduk di teras.

"Gak kuliah lo?" tanya Haechan melihat penampilan Sunwoo yang sepertinya baru bangun tidur. Sejak pagi Haechan sudah menjadi penunggu teras bahkan sebelum matahari terbit. Gak tau apa motif nya abis subuh nge jogrok di teras.

Sunwoo menggeleng karena mulutnya sibuk mengunyah pisang goreng. Haechan juga ikut mengambil pisang goreng yang di bawa Sunwoo.

"Chan Heejin tuh gak lo anterin, mumpung Soobin gak ada dia kan jadi sendirian," Sunwoo mencolek Haechan saat Heejin melewati mereka. Heejin sudah berdandan cantik untuk berkuliah.

Haechan hanya menaikan satu alisnya menatap Sunwoo. "Gak lagi males."

"Loh tumben biasanya kalok Heejin bareng Soobin aja lo sibuk ngerayu biar dia bareng lo." Sunwoo heran tentu saja. Karena Haechan yang biasanya pasti memiliki semangat 45 agar bisa bersama Heejin, tapi lelaki yang menggunakan kaos oblong berwarna abu dan rambut yang sangat berantakan seperti sarang burung ini justru melepaskan kesempatan di depan matanya.

"Gue lagi males aja," sahut Haechan cuek kemudian menyeruput kopi nya yang masih panas.

***

Pagi ini Karina sudah sibuk menata buku yang sudah ia kumpulkan kedalam kardus. Buku yang sebagian besar adalah buku cerita anak adalah hasil dari donasi yang telah Karina kumpulkan selama satu minggu terakhir nantinya buku ini akan di berikan untuk anak-anak panti asuhan.

"Lo alih profesi jadi jual buku Kar?"

"Iya buat bayar spp."

"Kar spp 7.5 juta mau sebanyak apa buku yang lo kumpulin."

"Sebanyak rumah ini." Karina masih terus menjawab sambil menata buku di kardus kedua. Mengabaikan eksistensi seorang pemuda yang berdiri di belakang nya.

"Gue boleh ikut?"

Karina mengernyit mendengar ucapan Jeno. "Ikut kemana?"

"Ikut ke rumah orang tua kamu buat ngelamar," sahut Jeno cepat membuat Karina mendengus.

"Ikut kepanti Kar?" ralat Jeno kemudian duduk disamping Karina.

Semalam Karina memang memberitahu jika hari Kamis ini dia akan pergi ke panti bersama beberapa teman jurusan nya dan mengajak anak ruber jika ada yang mau dan tidak sibuk. Jeno tentu saja mau meskipun harus membolos satu mata kuliah hari ini. Tenang ada Hyunjin yang bisa di titipi absen buat apa punya teman sejurusan satu rumah pula kalau tidak bisa membantu dan di manfaatkan.

"Kalok mau ikut lo buruan mandi sana siap-siap setengah 8 udah harus kumpul di Kemalang."

"Gue udah mandi Kar."

"Iya kemaren sore," sarkas Karina membuat Jeno terkekeh. Yah setidak nya sekarang Jeno sudah tidak terlalu malang karena sekarang Karina tidak sedingin dulu bahkan teman-teman nya saja menyadari jika es batu sudah mulai mencair jadi bukan Jeno yang ke pedean.

Melihat jam yang menempel di dinding sudah menunjuk ke angka 7 Jeno langsung berdiri untuk mandi. Karina sudah rapi dengan celana kulot berwarna hitam juga kemeja sage green nya. Rambutnya yang panjang dia biarkan tergerai membuat Jeno yang di samping nya merasa gemas ingin mengelus rambut hitam itu sejak tadi.

***

Karina dan teman-teman nya sampai di panti pukul sembilan tepat. Mereka langsung di sambut hangat oleh ibu Dara pemilik panti. Selain buku cerita anak mereka juga membawa sembako, pakaian layak pakai juga alat tulis. Anak-anak panti juga sangat senang dengan kehadiran mereka. Setelah berbincang sebentar di dalam panti mereka semua memilih untuk keluar kehalaman depan untuk bermain bersama. Ada 6 orang yang datang ke panti termasuk Jeno dan Karina. Sedangkan anak panti ada 20 orang dengan berbagai usia paling besar berusia 15 tahun.

Ruber 00lTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang