Pajak Jadian Katanya

497 40 4
                                        

Seoyeon menarik nafas nya lelah melihat jam tangan nya berulang kali. Ini sudah lewat dari jam perkuliahan korupsi waktu namanya. Perkuliahan harusnya selesai pukul 11.40 tetapi ini sudah pukul 12 lewat tapi dosen didepan alias pak Taecyeon masih saja asik menjelaskan tentang materi perkuliahan hari ini tanpa peduli jika mahasiswa di kelas ini tidak ada yang fokus memperhatikan. Mereka memulai perkuliahan dari pagi tanpa jeda dan sekarang waktunya memberi makan cacing di perut jadi bagiamana mereka bisa tetap fokus bahkan materi yang di sampaikan masuk telinga kanan keluar melalui telinga kanan juga alias mental.

Sejak tadi anak kelas nya sudah memberikan kode keras dengan deheman pura-pura batuk celetukan jam bahkan ada yang sampai memutar adzan dari ponsel nya tapi pak Taecyeon mengabaikan nya. Hebat sekali.

"Materi perkuliahan hari ini sampai disini. Oh iya karena ini sudah minggu ke 14 minggu depan kita adakan kuis jangan lupa tugas presentasi minggu kemarin di kerjakan setelah kuis kita langsung presentasi. Terimakasih."

Setelah Pak Taecyeon keluar Seoyeon langsung menelungkupkan kepala nya diatas meja. Ah rasanya otak nya sudah panas sekali setelah mendengar kalimat perpisahan dari dosen paling perfeksionis di jurusan nya.

"Woi monyet lo di tungguin malah tidur."

Seoyeon memutar bola mata nya malas saat mendengar suara cempreng yang sangat dia hafal di luar kepala itu.

"Heh lo pingsan?" Merasa panggilan nya tak di gubris Nagyung langsung masuk kedalam kelas Seoyeon yang sudah sepi itu.

"Apa sih setan tangan lo jauh-jauh dari dahi gue!" amuk Seoyeon membuat Nagyung berjengit kaget.

"Yeu emang beneran monyet lo. Ayok buruan ke kantin gue mau bayar utang ini ke lo."

"Ya sabar dong gue lagi ngumpulin tenaga ini."

"Eh btw kelas lo mantep ya isi nya banyak yang cakep," bisik Nagyung pada Seoyeon membuat nya mendapatkan pukulan gratis di kepalanya.

"Mentang-mentang abis putus mata lo jadi liar ya," sinis nya mendapat kekehan dari Nagyung.

Rencana mereka siang ini adalah mencoba kedai seblak yang baru buka di dekat kampus. Itu sebab nya Nagyung bertahan menunggu kelas Seoyeon berakhir kalau bukan karena agenda seblak mana sudi dia menunggu.

"Eh si Sunwoo sama Heejin mau join nih," celetuk Nagyung saat mereka berdua sudah di parkiran. Mereka berangkat bersama tadi pagi menggunakan motor Seoyeon.

Seoyeon hanya mengangguk saja tanda setuju kemudian memanggil Nagyung untuk segera naik ke boncengan nya. "Kita tunggu disana aja sekalian cari tempat, mereka suruh nyusul."

Tak butuh lama untuk sampai di tempat yang mereka tuju karena tempat nya memang sangat dekat dengan kampus dan di jam makan siang ini tentu saja sangat ramai oleh mahasiswa dari universitas nya. Tempat yang strategis baru buka juga jadi ada promosi buy 1 get 1 membuat tempat ini tidak menyisakan kursi kosong.

Mereka berdua langsung mengantri untuk mengambil isi an seblak yang disediakan secara prasmanan tak lupa pula dengan titipan Sunwoo dan Heejin yang katanya sebentar lagi sampai.

"Ya elah gara-gara elo ini Yeon kita telat," gerutu Nagyung saat tak menemukan tempat kosong. Pesanan seblak mereka sudah dalam antrian untuk dimasak kini tinggal mencari tempat duduk untuk makan seblak.

"Heh salahin noh dosen gue yang ngaret," sahut Seoyeon tak terima. Matanya terus berkeliling melihat tempat kosong atau paling tidak pengunjung yang sudah akan beranjak. Dan beruntungnya dia menemukan satu pengunjung yang hendak berdiri dengan segera dia menarik tangan Nagyung dan berjalan ke meja yang sudah di tinggal itu.

"Anjir pake aba-aba kek kalok mau narik gue."

Seyeon hanya mendengus saja mengabaikan ocehan bocah galau di depan nya. Yah pasca putus dengan Renjun, akhir-akhir ini Nagyung memang menjadi lebih bawel. Meskipun tidak terang-ternagan menangis atau menunjukkan kesedihan nya tapi anak ruber faham suasana hati Nagyung yang tidak baik-baik saja itu sebab nya dari tadi Seoyeon lebih memilih untuk mengabaikan nya saja. Jika dalam kondisi normal mungkin Seoyeon sudah menyahuti gerutuan Nagyung.

Ruber 00lTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang