"Mereka memang tampak menggemaskan, tapi kita tidak tau bagaimana kedua mata kecilnya melihat"
*****
Kedua tangan kecil tersebut terus saja mengorek tanah di depannya, terdengar saup saup suara perempuan dari gazebo yang tidak terlalu jauh dari tempat Ia duduk.
"Kotor nak ya ampun," ucapnya melihat kegiatannya saat ini.
Mata bulat dengan kedua pipi caby tersebut memandang seseorang yang tengah terburu buru berjalan ke arahnya, "weh wat nda," ucapnya sembari menunjuk sebuah gundukan yang berhasil ia buat.
"Abang Husain," jeda (Namakamu) sembari mengangkat tubuh Husain,"bunda suka kok Abang aktif main. Tapi ini udah sore sayang, Bang Hasan aja udah mandi tuh, dah wangi," tunjuknya pada Hasan yang sedang duduk di gazebo dengan piring berisi potongan mangga du depannya.
Pandangan Husain beralih pada sang kakak lalu menatap gundukan di sampingnya, "Bang wat we nda," ucapnya lagi.
(Namakamu) tampak diam, Ia masih mencerna maksud dari Husain yang terus mengucapkan kata kue sedari tadi. Setelah mengetahui maksud dari Husain membuat (Namakamu) tersenyum lembut sembari mengusap kedua pipi Husain.
"Makasih ya bang udah bikinin bunda kue, bunda suka kok," puji (Namakamu) membuat kedua pipi Husain mengembang.
"Ndi" ucap Husain setelah mendengar pujian yang sedari tadi Ia tunggu.
"Kamu jaga Hasan aja, biar aku mandiin Husain," sela Iqbaal menggendong Husain.
Dengan cepat Iqbaal membawa Husain masuk ke dalam rumah sedangkan (Namakamu) kembali duduk bersama Hasan yang masih setia memakan buah mangga yang Ia siapkan.
"Hak," ucap Hasan menyuapkan sepotong mangga pada (Namakamu), " nis," lanjut nya ketika sepotong mangga berhasil Ia suapkan.
"Agi," ucap Hasan kembali menyuapi (Namakamu), Ia tampak tersenyum ketika sang Bunda menerima suapannya.
(Namakamu) terkekeh geli ketika tangan mungil Hasan mengusap sudut bibirnya, sama persis seperti sang suami lakukan setiap hari.
"Mo num?," Tanya Hasan pada sang Bunda.
"Bunda belum haus, Abang aja yang minum," tolak (Namakamu) sembari menahan gelas ketika Hasan mulai minum.
Tak butuh waktu lama Iqbaal dan Husain datang. Keduanya tampak lebih berseri setelah mandi.
"Di gorengin bakwan jagung sama Mama," ucap Iqbaal meletakkan piring berisi bakwan.
"Aku petik cabe dulu," ucap (Namakamu) berjalan ke arah kebun mini milik mama Vira.
"Abe?," Tanya Husain melihat sang Bunda berjalan menuju kebun mini, " Abe hu hah hu hah yah?," Sambung Husain memperagakan jika seseorang tengah kepedasan.
Iqbaal terkekeh geli " iya cabe yang hu hah itu," jawab Iqbaal membuat Husain melangkah mundur, "Bang Hasan sama Husain makan bakwannya aja," ucap Iqbaal memotong bakwan menjadi dua bagian agar lebih mudah dingin.
"No Abe tan?," Tanya Husain memastikan " ihh anas," pekiknya ketika mengambil bakwan yang sudah di bagi dua oleh Iqbaal.
"Iyup uyu ndek huhhh," ucap Hasan mengambil satu bakwan dan meniupnya beberapa kali,"ni dah ingin," ucapnya setelah di rasa bakwan di tangannya sudah dingin.
Husain pun memakan bakwan di tangannya dengan lahap, berbeda dengan Hasan yang masih setia meniup bakwan di tangannya agar cepat dingin lalu menaruh nya di depan Husain.
Perlakuan kecil tersebut membuat (Namakamu) maupun Iqbaal tersenyum bangga. Kedua putranya tumbuh dengan baik selama ini dan semoga akan tetap seperti ini sampai mereka dewasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunda dan si kembar
FanfictionKEMBALI ON GOING Cover bay @iteukismine Sequel Pasutri Backstreet. Di sarankan untuk baca cerita Pasutri Backstreet dahulu sebelum baca cerita ini.
