[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
SAAT malam berikutnya tiba, Aetius tahu bahwa inilah waktunya untuk bertindak. Seruan panik bercampur dengan teriakan amarah terdengar dari kejauhan, pertanda bahwa Jonas dan kelompoknya kembali menghadapi kekacauan yang baru. Api unggun di tengah perkemahan pun berpendar liar, memperlihatkan siluet para pemburu yang kewalahan saat menghadapi serangan yang mendadak. Sekali lagi, singa itu menghancurkan tenda dan keberanian mereka dengan sekali lecutan.
Di atas bukit kecilnya, Aetius berdiri dengan tenang. Tempat ini cukup aman dari amukan singa yang tak kunjung mereda, setidaknya cukup untuk berlindung hingga binatang itu kembali ke sarangnya. Sementara itu, kuda setianya tampak berjejer di belakangnya, menjaga para pemburu yang ikut menjauh dari kekacauan bersama mereka.
Setelah mengamati situasi di bawah sana cukup lama, Aetius pun membulatkan keputusannya. "Jaga mereka tetap di sini," ujarnya kepada kudanya lalu beralih kepada salah satu pemburu yang lebih muda. "Pastikan tidak ada yang turun dari bukit."
Aetius meraih busur dan anak panahnya lalu menyelinap masuk ke dalam hutan di kaki gunung. Langkahnya nyaris tak bersuara, seperti bayangan yang meluncur di tengah dedaunan yang gugur. Perlahan-lahan dia mengikuti jejak samar yang ditinggalkan oleh singa itu—bekas cakaran di tanah, cabang pohon yang patah, dan genangan darah kecil yang nyaris mengering—dan menyusuri ke mana arah tujuannya. Namun, semakin jauh ia melangkah ke dalam gelapnya hutan itu, cahaya semakin redup dengan jalur yang seperti labirin tanpa ujung.
Aetius menggenggam busurnya lebih erat, lanjut melangkah di bawah sinar bulan yang temaram. Meskipun perasaan gelisah yang tak terdefinisikan itu mulai merayapi dirinya, dia harus tetap lanjut berjalan. Namun, hawa dingin yang sekelebat melintas itu membuat dirinya membeku sebentar.
Mata Aetius menyipit, menangkap sesuatu yang bergerak dengan cepat dari ujung matanya. Itu terlihat seperti bayangan besar yang melintas di antara pepohonan, mungkin saja itu adalah bayangan singa yang sedang ia kejar. Sontak saja ia merendahkan tubuhnya dan bersiap untuk mengejarnya dengan langkah yang senyap.
Saat ia mengikuti bayangan yang masih terlihat samar-samar itu, suara dersik daun terasa semakin dekat dengan posisinya. Dia tahu bahwa dia tidaklah sendirian di sana, melainkan ada sesuatu yang mengintainya dalam kegelapan. Aetius pun langsung mempersiapkan busur dan anak panahnya jikalau harus menghadapi singa itu lagi. Dia lanjut memindai sekelilingnya untuk mencari di mana posisi makhluk itu saat ini. Namun, samar-samar aroma kamperfuli yang tercium harum dan liar itu melintas di penghidunya. Aetius merasakan sesuatu yang tidak asing, apalagi ketika ia mendengar suara lembut nan tegas yang akrab di telinganya.
"Kenapa kau menyendiri?"
Suara yang datang dari kegelapan itu membuat Aetius tersentak. Dia berbalik dengan cepat, melihat bayangan itu semakin dekat. Tepat sebelum ia melontarkan panahnya, tiba-tiba saja bayangan itu membentuk tubuh yang ia kenal, seorang wanita bermata perak yang tinggi dan anggun sudah berdiri di hadapannya dengan busur yang mengkilat di punggungnya. Jelas sekali itu bukanlah singanya, melainkan seseorang yang seharusnya tak berada di sana.