[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
PENANTIAN itu membuat kegelisahannya semakin memuncak. Sudah hampir empat minggu kompetisi itu berlangsung, tetapi dia sama sekali belum mendapatkan kabar apa pun mengenai kekasihnya. Apa yang ia dengar justru banyaknya korban yang berjatuhan dan dibawa kembali ke Thebes dalam kondisi yang mengerikan.
Leora masih membisu di tribun untuk menunggu kabar baru. Memantau perkembangan kompetisi sengit yang diawasi langsung oleh Timon. Namun, hatinya menjadi semakin cabar ketika menyaksikan puluhan tubuh kaku yang diangkut di depan matanya.
Pikirannya begitu semrawut. Bagaimana dengan kondisi Aetius saat ini? Apakah dia juga terluka? Apakah dia baik-baik saja? Tangannya yang berada di atas lengan kursi itu tampak mengepal, berusaha mengesampingkan pikiran negatif yang terus bermunculan bagai angin ribut. Harapan, keyakinan, dan ketakutan itu telah melebur menjadi satu dan menemani hari-harinya yang kelabu.
Sebuah tepukan lembut di bahunya itu menyadarkannya. "Dia baik-baik saja," ujar Arsen di sampingnya. "Aku dengar dari Timon, dia sama sekali tidak terluka oleh serangan itu."
Mata Leora tampak berbinar dengan air mata yang tertahan. "Syukurlah kalau begitu," helanya lirih.
"Dia itu pria yang tangguh. Aku yakin, dia akan berhasil dan kembali dengan selamat," ujar Arsen dengan senyuman hangat. "Pokoknya jangan berhenti berharap."
"Terima kasih banyak, Adelfos," balas Leora tersenyum simpul setelah mendapat cukup ketenangan.
"Bagaimana kalau kau pergi ke suatu tempat saja daripada duduk tegang di sini?" usul Arsen menepuk pundaknya pelan. "Helota atau Akalle pasti mau menemani untuk mencari pemandangan baru."
Akibat kegelisahannya yang tak kunjung mereda, Leora akhirnya menerima saran kakaknya. Dia memutuskan untuk keluar dari rutinitas yang membebani itu untuk mengunjungi Atalanta di kuil. Akalle yang ceria dan penuh semangat itu dengan senang hati menemaninya. Dia tampak bergumam riang di samping Leora yang masih berekspresi kaku.
"Siapa yang ingin kau temui tadi?" tanya Akalle.
"Atalanta."
"Ah, iya. Kenalanmu itu, kan? Kenapa banyak sekali orang asing yang berdatangan padamu, Leora?"
Gadis itu mengangkat sedikit bahunya. "Aku hanya bertemu dengannya saat berburu dan pergi ke pasar beberapa waktu yang lalu."
"Kau tidak mengajakku?"
"Akan merepotkan kalau kau ikut berburu," jawab Leora.
"Uh! Aku memang tidak pandai berkuda atau berburu sepertimu, tapi kau juga tidak mengajakku saat ke pasar?" dengus Akalle yang membuat sepupunya terkekeh. Sebenarnya dia hanya kebetulan melintasi pasar saja waktu itu.
"Kau tahu," kata Akalle sambil menunjuk burung yang terbang melintas, "kalau kita cukup cepat, mungkin kita bisa menyalip burung itu."
Leora tersenyum kecil. "Apa kau mau balapan denganku?"