Maira keluar dari rumahnya, lalu berjalan keluar pintu gerbang untuk menemui Arven yang sudah menunggu didepan.
"Em hai Ven," sapa Maira malu-malu.
Arven yang berdiri disamping mobil itu pun langsung menatap ke arah Maira yang baru saja keluar dari pintu gerbang, Arven terkesiap melihat penampilan Maira malam ini, Arven melihat Maira dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Maira yang ditatap seperti itupun merasa heran, apakah ada yang salah dengan penampilannya? Maira merasa bersalah didalam hatinya.
"Ven? Kenapa? Penampilan gue ga bagus ya? Atau make up gue tebel banget?" tanya Maira bertubi-tubi.
Arven pun mengedipkan matanya, lalu menggeleng cepat, "Engga, Za. Gaada yang salah sama sekali dari penampilan lo malam ini."
"Za.." panggil Arven pelan dengan nada yang sangat lembut.
Maira mengejipkan matanya, dirinya merasa salah tingkah mendengar suara lembut Arven, "Ya?"
Arven tersenyum tipis, lalu membukakan pintu mobil untuk Maira, "Silahkan masuk, my beautiful princess."
Maira menggigit bibir bawahnya, menahan kesaltingan nya yang sudah tingkat dewa, tentu saja Maira kaget dengan perlakuan Arven malam ini.
Maira pun memasuki mobil sport milik Arven, lalu duduk disebelah pengemudi.
Begitupun dengan Arven, dia memasuki mobil sport nya juga, setelah itu mobil berlaju kencang.
****
Kurang lebih sepuluh menit perjalanan menuju restoran yang menjadi tempat dinner Arven dan Maira malam ini.
Arven pun melepaskan sabuk pengaman, lalu beralih menatap Maira yang duduk disampingnya, "Gabisa?" tanya Arven yang melihat Maira sedang kesusahan melepas sabuk pengaman.
Maira melirik Arven sekilas, "Udah tau malah nanya," ketus Maira, dia berusaha ketus agar mempunyai kesan tidak berharap lebih kepada Arven.
Arven pun tersenyum tipis, lalu membantu Maira melepaskan sabuk pengaman tersebut, kini jarak antara Arven dan Maira sangat dekat, membuat Maira susah bernafas.
"Udah," ucap Arven ketika selesai membantu melepaskan sabuk pengaman Maira.
"M-makasih," balas Maira gagap.
Arven mengangguk, lalu keluar dari mobil mendahului Maira, yang membuat Maira kesal.
"Gue malah ditinggalin, sialan," protes Maira dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
Maira pun keluar dari mobil, lalu menutup pintu mobil Arven dengan kencang untuk melampiaskan sedikit emosi nya. Namun, ketika dia berbalik badan, Maira langsung terpelonjak kaget karena melihat Arven yang berdiri dibelakangnya.
"Ngagetin aja lo!" pekik Maira sambil memukul lengan Arven.
Arven meringis pelan, "Gitu aja kaget, lebay lo."
"Dih, ngatain? Lo aja gue gituin, kaget ga?" tanya Maira balik.
"Engga, biasa aja," balas Arven santai.
"Tau ah serah lo." Maira membuang pandangannya ke arah lain, tidak ingin menatap wajah Arven yang membuat emosi nya memuncak.
"Gausah ngambek, ayo kita masuk," final Arven, lalu sambil menggenggam pergelangan tangan Maira.
Maira langsung menatap ke arah tangannya yang digenggam, lalu setelah itu menatap Arven, "Ven?"
Arven hanya tersenyum tipis membalas keterkejutan Maira, setelah itu mereka berdua memasuki restoran yang sudah Arven pesan khusus untuk mereka berdua, restoran mewah dan dekorasi yang sangat indah, dekorasi itu khusus dinner Arven dan Maira malam ini, Arven sangat romantis bukan?
KAMU SEDANG MEMBACA
ARZA
Novela Juvenil"Gue suka sama lo" "Tapi gue gasuka sama lo" ☠️☠️☠️ Ini tentang Maira yang terobsesi dengan seorang Arven, dia selalu bertekad untuk mendapatkan hati Arven. Berbanding balik dengan Arven, yang malah menyukai perempuan lain...
