23 - Epidíoxi

8 3 0
                                        

Selama beberapa hari, Elsa dan Audr secara rutin mengunjungi altar di Hutan Alennesse. Mereka masih tidak bisa menyimpulkan kekuatan apa yang ada di benda tersebut, dan rasanya hanya seperti berputar-putar mengitari lingkaran yang tidak ada habisnya. Mereka tahu bahwa ada kekuatan besar di balik altar ini, tetapi kekuatan apa, itu mereka yang tidak tahu.

Pagi sebelum mereka pergi, Igvir sempat menginformasikan bahwa Treaston hari ini kemungkinan besar akan mengambil alih Juvis, sehingga kebenaran ramalan Oracle sepertinya akan datang semakin cepat. Ini tentu saja adalah berita yang sangat mengkhawatirkan bagi mereka, tetapi kekuatan yang bisa menghentikan mereka mungkin berada di tangan Sienna yang kini masih tidak bisa dijangkau oleh siapa pun, dan semakin lama menunggu, waktu mereka akan segera habis.

Audr selama beberapa hari itu tidak hanya menemani Elsa, tanpa sepengetahuan elf itu, Audr mengawasi perkembangan kondisinya. Mental, juga psikis. Apa yang terjadi pada Elsa selama beberapa bulan terakhir membuat semua orang yang berada di sekitarnya khawatir. Khawatir pada jiwanya, dan juga keselamatan semua orang.

"Ini sudah berhari-hari, dan kau masih penasaran dengan altar ini?" Tanya Audr dengan nada yang tenang. Kedua matanya mengikuti gerak-gerik dari elf yang sedari tadi berkutat pada batu yang menjadi bahan utama dari altar tersebut.

"Kenapa? Kau bosan?" Celetuk Elsa. Senyum kecil terlihat mengumandang dari bibirnya.

Di atas, sinar matahari berusaha untuk menembus rindangnya pepohonan. Kicau burung terdengar bahkan sebelum mereka datang, dan riangnya masih bisa mereka nikmati. Sesekali, ada hewan yang menengok, dan beberapa dari mereka mendekat, namun dengan segera lari menjauh melanjutkan perjalanan.

"Tidak," jawab Audr. "Kau tahu, mungkin kau memiliki kekuatan lebih besar yang tidak kauketahui."

Perhatian Elsa teralihkan oleh kalimat yang baru saja diucapkan oleh Audr, matanya memperhatikan ekspresi yang ditampilkan oleh makhluk itu berharap bahwa dia bisa menafsirkan maksud di balik kata-kata yang diucapkan. "Kekuatan lebih besar?" Ulangnya, kemudian berdiri dari tempatnya berjongkok.

"Kau mempunyai ketertarikan dengan kekuatan sihir yang lebih daripada aku. Aku akan bosan dengan cepat dan tidak punya kesabaran lebih untuk mengetahui untuk apa altar ini. Sedangkan dirimu, kau masih berkutat seolah mempercayai bahwa altar ini seolah mempunyai kekuatan besar yang kaubutuhkan."

"Sebagian kecil, iya," balas Elsa, dia menghela napasnya dengan cukup panjang, seolah altar ini merenggut semua kekuatannya. "Kalau aku boleh jujur... aku sendiri tidak tahu mengapa aku begitu tertarik dengan tempat ini."

"Itu... mungkin salah satu petunjuk untuk menjawab pertanyaanku—"

Tiba-tiba saja kalimat Audr terhenti, tatapannya beralih ke arah yang tidak bisa dilihat oleh Elsa di kejauhan. Kicauan burung-burung terhenti dan digantikan oleh kepakan sayap yang tidak beraturan. Ranting-ranting pepohonan bergetar, begitu pula dengan tanah yang mereka pijak.

Tanpa berpikir panjang, Audr menggapai pergelangan tangan Elsa, namun itu sudah terlambat untuk menghindari ancaman yang datang. Tiga makhluk asing datang menampakkan diri dari balik pepohonan di tiga sudut yang berbeda.

Valgard. Griselda. Aelis.

Ketiga Elite Thirteen itu menemukan kejutan yang menarik di Hutan Alennesse. Ini akan menjadi pencapaian yang sempurna. Dua batu dalam sekali lompat.

"Kejutan apa yang kutemukan di sini," sambut Griselda.

Tanpa basa-basi, dia memberi isyarat pada kedua rekannya untuk menyerang Audr dan Elsa, diikuti dengan gerakan kilat yang rasanya seperti melebihi kecepatan cahaya. Beruntungnya, Audr dan Elsa dapat melihat gerakan ini dan mampu menghindar dengan tepat waktu. Namun satu kali hindar tidak mengamankan posisi mereka, Audr tahu bahwa mau tidak mau dia harus memberi perlawanan.

"Elsa, kendalikan emosimu," pesan Audr. "Kita tidak bisa memenangkan pertarungan ini, tidak dengan kondisimu. Namun kita bisa mengulur waktu."

"Apa yang kau sarankan?"

"Kita beri mereka perlawanan. Dan ketika saatnya tepat, kita akan kabur. Kau bisa lakukan itu?"

Elsa menutup mata dan menghela napas panjang, "Baiklah."

Pertarungan itu dimulai tanpa sepengetahuan siapa pun, dan berlangsung dengan singkat. Dua lawan tiga sebenarnya bukan hal yang mengkhawatirkan bagi Audr—karena dia pernah menghadapi lebih banyak musuh sendirian, namun satu hal yang perlu dia tekankan di pertarungan ini adalah, Audr tidak bisa meremehkan musuhnya. Ketika seseorang bisa berkembang menjadi lebih baik, maka orang lain pun juga memiliki kemampuan yang sama, dan mungkin bahkan lebih baik dari dirinya.

Meskipun demikian, tujuan Griselda membawa Aelis dan Valgard ke tempat itu untuk menghancurkan altar. Jadi, Griselda membuat Aelis dan Valgard sibuk dengan Audr dan Elsa, selagi dirinya menghancurkan altar tersebut.

Griselda memusatkan kekuatan yang dia miliki ke kapak raksasa yang berada di genggaman tangannya. Seluruh permukaan mata kapak dengan cepat memanas, dan aura berwarna merah terlihat mengasap. Dengan satu ayunan kuat yang disertai kuda-kuda sempurna, altar itu hancur berkeping-keping. Energi sihir yang tidak kasat mata langsung menyembur ke angkasa, seolah memiliki tujuan ke mana harus pergi.

Elsa dan Audr sama-sama dapat merasakan lonjakan energi yang terbebas setelah altar itu dihancurkan. Sangat besar dan... menggiurkan. Dan hal tersebut tentu saja menjawab sedikit pertanyaan yang mereka miliki mengenai fungsi altar itu. Dengan ini, hipotesis lain muncul, namun Audr memiliki hal yang lebih mendesak untuk dipikirkan.

Untungnya, dengan hancurnya altar itu, perhatian Valgard dan Aelis sedikit terganggu—yang mana memberi Audr dan Elsa sedikit celah untuk lari. Kesempatan itu dipergunakan dengan baik oleh Audr, dia langsung menggapai Elsa dan berteleportasi dengan cepat.

Dalam satu kedipan saja, kedua makhluk itu sudah menghilang dari hadapan. Ketiga Elite Thirteen itu langsung memberi pengejaran dengan memanfaatkan kekuatan Aelis yang dapat mendeteksi jejak energi sihir. Jejaknya jauh menuju arah utara, melewati padang rumput yang luas hingga bertemu dengan sungai. Di seberang sana, jejak dari Audr dan Elsa mulai menghilang seiring rimbunnya Hutan Hermifell.

"Kau yakin mereka ke sini?" Griselda memastikan.

Sudah sekitar sepuluh menit mereka mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh Audr, namun sepertinya Aelis tidak bisa lagi mendeteksi secara pasti ke mana kedua makhluk itu pergi. Energi yang ditinggalkan oleh makhluk yang dikejar sepertinya terpencar menjadi serpihan-serpihan kecil yang bisa membuat Aelis kehilangan jejak jika mengikuti serpihan yang salah.

"Aku yakin mereka menuju hutan ini," ujarnya, tubuh Aelis berjongkok dan mengamati tanah yang bercampur dengan dedaunan yang telah jatuh. "Namun jejaknya menghilang... atau terpencar menjadi serpihan... aku tidak bisa mengatakannya secara pasti. Rasanya seperti... hutan ini sedang melindungi mereka."

"Hmm," Griselda lalu mendecih. "Kalau begitu kita harus berpencar. Itu kesempatan paling bagus untuk menemukan mereka."

Setelah kalimat dari Griselda, Valgard dan Aelis berpencar ke arah yang berbeda.

The Nightingale WhisperersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang