Rapunza mengamati dirinya sendiri. "Ini sih ga usah pake pakaian," gumamnya agak syok, dia pikir saat di pakai tidak akan setransparan ini.
Rapunza menjilat bibir gugup, nanti saat keluar kamar mandi harus bagaimana? Dia tidak bisa menggoda, astaga! Rapunza harusnya tanya pada Zoela atau bisa cari di google cara menggoda suami bagaimana.
"Jalan aja kayak gini, apa pake jubah mandi?" gumamnya masih sibuk berdiri tanpa sadar Boy sudah dari lama memperhatikan Rapunza dan monolognya.
Terlihat asyik pada dunianya sendiri. Boy menggeleng samar, merasa geli melihat Rapunza yang so dewasa itu.
"Menggoda itu kayak gini?" Rapunza meliuk-liukan tubuh kakunya, dia amati di cermin lalu memekik geli sendiri. "Ihh jijik!" pekiknya tertahan.
Tangan lentik itu mengusap lengannya saking merinding sendiri melihat kelakuannya yang belum pernah sekali pun dia lakukan.
Begitu mendebarkan.
Boy menggigit bibir bawahnya, hampir saja dia terbahak. Bukannya menggoda malah lucu, begitu kaku liukan pinggang ramping itu.
Tapi tak dapat di pungkiri, Rapunza cantik dengan lingerie merah darah itu. Tubuhnya begitu indah. Dari belakang saja sudah membuat gairahnya terpancing.
Rapunza menghela nafas. "Kayaknya harus belajar dulu," gumamnya lesu, meraih jubah mandi dan mulai akan memakainya.
"Jangan di tutup,"
Rapunza berjengit kaget, jubah yang baru dia lebarkan itu terjatuh ke lantai saking terkejut.
Boy yang bersandar di pintu kini bergerak menghampiri Rapunza, memeluk pinggangnya lalu menabrakan bibir ke bibirnya. Tanpa aba-aba.
Rapunza pun memejamkan mata dan membalas, melingkarkan lengannya ke leher Boy dengan berusaha mengimbangi.
Lumatan Boy lebih agresif, lidahnya sibuk membelai dan membasahi bibirnya, mengabsen barisan gigi dan mengajak bergulat lidah.
"Shh.." desah Rapunza pun lepas.
Pagutan yang menuntut itu perlahan mulai terlepas tanpa membuat jarak banyak, nafas keduanya sama terengah lalu sama-sama melempar senyum.
"Ga usah belajar, alami aja nanti lihai sendiri. Diem aja kamu udah menggoda," bisiknya lalu Boy mengusap setiap sisi pinggang Rapunza, menyatukan keningnya dengan kening Rapunza dan menggesekan hidungnya.
"Maaf, ga bisa—"
"Sstt, aku ga butuh kamu jadi penggoda, tanpa di goda pun aku tergoda, jangan makin bikin aku gila, sayang," suara Boy memberat serak, dia sudah sangat terpancing.
Rapunza tersipu mendengarnya, dia merasa spesial. Pada akhirnya dia semakin jatuh cinta pada suaminya.
Rapunza merasa beruntung memiliki dan di miliki Boy.
Boy mengangkat Rapunza, mengecup bibirnya beberapa kali lalu merebahkan Rapunza ke atas kasur perlahan, diikuti dirinya yang kini mengukung tubuh yang terekspos di balik lingerie itu.
"Tunggu," Rapunza membalik Boy hingga berada di bawahnya.
"Mau apa lagi, sayang?" di usap lengan Rapunza yang tidak terlahang apapun itu, rasanya Boy tidak sabaran.
Boy mengamati dua bulatan yang tidak tertutup apapun di dalam lingerie itu, rasanya dia ingin segera merobek semua dan melihatnya jelas.
Rapunza tersenyum malu, menatap Boy dengan genit. Tak lupa jemarinya berjalan nakal di dada bidang Boy.
Boy menatap Rapunza yang berbinar menyusuri setiap otot yang dia bentuk itu. Boy tersenyum tak habis pikir melihat kemesuman di wajah jelita itu.
"Nakal!" Boy menjentrik pelan kening Rapunza hingga mengaduh.
