Tidak ada manusia yang sempurna, semua menepati jati dirinya secara tepat. Beberapa bersembunyi di balik rahasia yang mengejutkan, bahkan beberapa di antara mereka menangis di sepanjang hidupnya. Luka-luka sisa goresan masa lalu memang tampak pudar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
******
"Sialan!"
Elver sudah kehilangan kesabaran. Segera dia melemparkan teko kaca itu dengan keras. Tak pelak... suara pecahannya seperti meledakkan atmosfer kesepian kamar yang gelap itu.
"... Sampai kapan? I can't take it anymore. This tortures me!" Suaranya serak, mengadu gaduh pada dirinya sendiri. Dia meringkuk lekap kepalanya, berusaha menekan selangkup cemasnya.
---
"Selamat pagi, Pak Elver."
Elver menurunkan kaca mobilnya, dia tidak bereaksi ketika satpam menyapanya. Matanya detil menilik dari spion, memastikan dirinya memarkirkan mobil dengan benar dan lurus. Elver menarik rem tangannya dan memperhatikan gerak-gerik sang satpam yang tadi menyapanya. Satpam berbaju hitam itu terlihat lanjut berkeliling di sekitar parkiran.
Elver mematikan mesin mobilnya. Dia diam sebentar lalu menghela napas. Kepalanya masih sakit... sejak terbangun dini hari tadi, Elver tidak bisa kembali untuk tidur. Akhirnya Dia pun lari di pagi buta mengelilingi area apartemennya.
"... hope, no one bothers me today."
Elver merogoh dalam tas plastik di samping kursinya. Jarinya bergerak, menarik ujung cincin pembukanya. Suara kaleng terbuka disambung buih yang berdesis. Elver tersenyum, lalu menyicipnya sedikit. Pagi ini, dia ingin menikmati sekaleng bir dingin sebelum bekerja. Walau pun sedikit pahit tetapi Elver menyukai rasanya.
Sebuah mobil hitam terdengar masuk ke dalam parkiran. Bola mata Elver bergerak mengikuti arah mobil itu, dia mengamati saja sambil menengguk bir dinginnya. Tentunya dia tahu siapa pemilik mobil itu.
Kaca mobil Leanna tidak terlalu gelap, Elver jelas dapat mengamati apa yang dilakukan wanita itu di dalam. Lea tampak membuka kaca mata hitamnya dan merapikan beberapa barang di belakang mobilnya. Tetapi wanita dengan rambut terurai itu tidak langsung turun... rupanya dia ingin bersolek dahulu, memoleskan lipstik merahnya di depan kaca kecilnya. Elver berdecih, dia tidak suka dengan selera Lea yang cukup norak dengan lipstik merahnya. Menurutnya Wanita yang suka memakai warna merah adalah wanita yang ingin menonjol dan memamerkan sisi seksinya.
Lea turun dari mobilnya dan berkaca di jendela mobilnya. Dia memastikan penampilannya rapi, hari ini dia mengenakan blouse berwarna putih berkerah model rendah, dipadu celana model palazzo hijau gelap.
"Hm, sepertinya tidak ada yang tertinggal." Lea melongok sekali lagi ke dalam mobilnya, untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ditekannya tombol pengunci mobilnya, sebelum melenggang ke arah pintu masuk gedung kantor.