Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

33: Emosi yang beradu

954 88 4
                                        

---

Lea kebingungan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lea kebingungan. Dia segera membuka botol air mineral yang diberikan asisten Bidan. Tentu saja dia tidak menduga, akan melihat reaksi yang berlebihan. Lea duduk kembali di samping pria yang masih menangis tersedu-sedu, semburat wajahnya benar-benar merah padam. Suaranya meraung, kali ini polahnya benar-benar seperti anak kecil yang merajuk, menginginkan mainan.

"Elver, ada apa? Kenapa kamu histeris seperti ini?" Tanya Lea berbisik sambil menyodorkan botol air minumnya. Rasanya canggung sekali, apalagi di depan Bidan dan asistennya.

Asisten sang Bidan pun kembali mendekati mereka. Dia meletakkan tisu di atas meja, lalu merendahkan tubuhnya untuk memperhatikan emosi Elver sekali lagi. Wajahnya terlihat khawatir.

"Pak? Apakah anda baik-baik saja?" Tanya Bidan yang memeriksa kandungan Lea. Air mukanya pun kebingungan, dia sampai tidak jadi menuliskan resep obatnya.

Elver tidak menjawab, Air matanya masih meleleh deras, dadanya berusaha meloloskan napasnya yang masih tersengal-sengal. Dia memang menangis tersedu-sedu sampai dengan suara yang keras. Elver terlihat kacau dan sangat konyol. Tetapi dia tetap tidak bisa berhenti menangis, lonjakan emosinya keluar begitu saja. Elver langsung menutupi wajahnya dan kembali menangis seperti anak kecil.

Leanna masih kebingungan. "Elver, tenangkan dirimu. Minumlah dulu..." Leanna menyodorkan botol air minumnya. "... Tolonglah, tidak enak seperti ini di rumah sakit," bisik Lea mengingatkan.

Elver masih terisak menyambut botol itu. Matanya pun benar-benar merah dan menatap Lea dengan raut kesedihan. "Ke... napa? Kenapa kamu bisa hamil kembar?" Isaknya sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya.

Lea melirik ke arah bidan. Jantungnya berdegup. Jangan-jangan Elver menyesali ini? "Apakah kamu... Tidak senang?... Elver?" Tanya Lea dengan hati-hati.

"Tentu saja aku senang!" Jawab Elver dengan suara sengau. "Aku akan punya dua anak sekaligus! Aku akan punya anak kembar." Suara Elver meninggi, dan dia kembali menangis.

Leanna menegakkan punggungnya. Sebenarnya dia malu dan rasanya tidak percaya melihat calon suaminya histeris seperti ini. Lea tidak pernah melihat Elver konyol seperti ini, walau pun dia mengartikannya ini karena hatinya senang.

"Tentu saja ini kabar gembira," ujar Bidan sambil tertawa. "Itulah sebabnya para ibu harus rajin memeriksakan diri, kita akan menemukan keajaiban bagaimana kandungan ibu tumbuh. Yang terpenting kondisi kedua janin sempurna dan ibu juga sehat."

Leanna masih mengusap punggung Elver, berharap dia cepat menghabiskan tangisnya. "Maaf, Bu Bidan... "

"Tidak apa-apa. Semua punya reaksi yang berbeda untuk mengungkapkan kebahagiaannya."

Lea melirik Elver yang sesunggukkan, bibirnya sampai pucat. Bahkan botol air yang diberikannya juga tidak diteguknya. Lea pun cukup syok, tidak tahu bagaimana bereaksi dengan hasil pemeriksaan hari ini. Suasana hatinya naik turun bersamaan dengan morning sickness. Belum lagi, dia mendapatkan kabar bahwa dia akan segera dinonaktifkan sebagai manajer. Rasanya tentu bercampur aduk... Lea sampai tidak tahu, bagaimana menumpahkan rasa kebahagianya kali ini.

R A H A S I ACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang