29: Senyum yang kembali

692 92 4
                                        

---

Elver meletakkan cangkir kopinya. Kopi pahit itu tidak sebanding dengan rasa sedihnya, mungkin patah hati yang dia rasakan sedikit lama terobati. Tak pelak dia harus menelan kekecewaannya, tetapi inilah yang terbaik sebagai pelajaran hidupnya, yang mungkin saja di umurnya ini dia terlambat untuk mengenal kata cinta.

"Ini memang kacau...." Elver mengusap wajahnya, memijat dahinya yang terasa sangat pusing. Dia sudah pernah merasakan sakit yang lebih dari ini. Semenjak kedua orang tuanya pergi jauh, dia harus terbiasa sendiri dan belajar menghadapi masalah dengan dewasa...

Sekali lagi, Elver bernapas panjang, mengurai rasa sesak yang menekan dadanya. Kini dia harus merombak apa pun yang berkenaan dengan Oliver. Sisi tersulitnya... Elver sudah sangat mempercayai Oliver. Bahkan nama perusahaan yang dibangun pun atas nama Oliver... karena dirinya bukanlah warga negara Amerika.

"I thought you would go and burst into tears (Aku pikir, kamu akan pergi dan menangis tersedu-sedu)."

Elver mengangkat wajahnya, memandangi pantulan bayangan yang mendekatinya. Oliver berpakaian rapi, drama siluet dari cahaya lampu dapur membuat sosok tinggi itu bagaikan seorang pemenang. Elver berkedip, pria berkacamata itu berdiri di depannya. Tidak ada lagi tempat di hatinya, sebagai seorang kawan baik.

"This house is mine. Why should i go? (Rumah ini milikku. Untuk apa aku pergi?)" jawab Elver tanpa memandang Oliver. Ada rasa heran, kenapa pria Amerika ini sama sekali tidak tahu diri... Seharusnya Oliver bisa berpikir, siapa yang memiliki semua ini? sedangkan dialah yang menumpang. Sepertinya, Arogan ras Caucasian memang terlalu tinggi.

Seringai wajah Oliver menunjukkan ekspresi tak perdulinya. Dia mengambil ponsel dari sakunya. "... Keyna tidak bergerak lagi," ucapnya dengan aksen Los Angeles.

Elver menajamkan sorot matanya. "Apa... Apa maksudmu?"

"Pelacur itu pingsan, tepat setelah kamu pergi. Mungkin saja... dia juga sangat mencintaimu." Oliver sengaja mengarangnya.

Elver tertawa datar. Barangkali Oliver menganggapnya bodoh... "Tidak mungkin, bukankah tadi kalian baik-baik saja? Apakah ini rencana? Apakah kamu menjebakku, Oliver?"

"Aku tidak menjebakmu. Pelacur itu tentu saja tahu siapa yang lebih memiliki uang di sini. Malam itu, ketika kita merayakan pesta... sepertinya dia memang merencanakan untuk mendekatimu. Padahal jelas-jelas aku yang membayarnya." Oliver membalas tatapan Elver. "Lihatlah ekspresi wajahmu, kamu masih mencintainya."

"Aku tidak ingin lagi memikirkannya," sahut Elver canggung. Di dalam dadanya jelas masih merasakan kesakitan ketika mengetahui Keyna kembali tidur dengan Oliver sahabatnya. Entah siapa yang benar? Tetapi ini adalh murni kesalahan dirinya sendiri... Hatinya terlalu gampang terpikat.

"Mungkin saja... dia sudah meninggal."

Elver masih menyipitkan kelopak matanya, cukup terkejut dengan ucapan pria bermata hijau itu. "Kamu bicara apa, Oliver? Setengah jam yang lalu kalian berasyik masyuk!"

"Tidakkah kamu ingin memeriksanya?" Sahut Oliver sambil menunjukkan ponselnya dengan wajah yang serius. "Aku menelpon 911."

Melihat angka yang tertera di benda elektronik itu, perasaan Elver pun menjadi tidak enak. Sepertinya... memang terjadi sesuatu... "Kenapa kamu sendiri tidak menolongnya, jika memang kondisinya mengkhawatirkan?" Elver beranjak dari meja makan.

"Aku harus menelepon 911..."

"... Lalu bagaimana keadaannya?" Elver cemas.

"Seperti yang aku bilang... Dia tidak bergerak..."

R A H A S I ACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang