Tidak ada manusia yang sempurna, semua menepati jati dirinya secara tepat. Beberapa bersembunyi di balik rahasia yang mengejutkan, bahkan beberapa di antara mereka menangis di sepanjang hidupnya. Luka-luka sisa goresan masa lalu memang tampak pudar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hey, what are you doing, Elver? (Apa yang kamu lakukan, Elver?)"
Seorang pria berkacamata menarik cepat lembaran miliknya, raut wajahnya masam. Sedangkan Pria berwajah campuran Cina Jawa di sampingnya hanya tergelak.
"Seriously?" Elver menaikkan alis hitamnya yang tebal.
"Yeah, I will intern at a restaurant (Ya, Aku akan magang di restorant)."
"Wait... we are Computer and Information Sciences's and you will intern in a restaurant. What would you do? improve the cashier system? (Sebentar... kita ini jurusan ilmu komputer dan kamu akan magang di sebuah restoran. Apa yang akan kamu lakukan? memperbaiki sistem kasir?)"
"Pahamilah, aku tidak seperti kamu yang bisa lulus dalam pelatihan di Gugleplex," omelnya dalam bahasa Inggris. Mata hijaunya menyempit.
"Oliver, kamu harus memiliki target yang tinggi." Elver duduk di bangku taman yang terasa dingin itu. Taman "Ini kesempatan kita untuk mengenal jaringan profesional."
"Jez... kamu ini memang terlalu cerdas!"
Pohon Maple dan Pohon Oak di Hutan Lamont Campus mulai berubah warna. Angin dingin kencang, menerbangkan beberapa daun kuning ke sekitaran kampus yang terletak di tengah kota Manhattan. Beberapa orang tampak memilih untuk masuk ke dalam gedung yang tentunya lebih hangat. Sayangnya, musim dingin tahun ini diprediksi tidak akan melewati white Christmas, kemungkinan tidak akan ada salju.
"Kita masuk ke dalam saja." Elver menaikkan ujung kerahnya jaketnya. "Hawanya sangat dingin."
"... Jadi, kapan kamu berangkat ke Silicon Valley?" Tanya Oliver sambil menepuk-nepuk bagian belakang celananya. Dia berjalan mengiringi Elver yang sedikit lebih pendek darinya. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin dingin.
"I don't know, I'm still waiting for a confirmation email from them. (Aku tidak tahu. Masih menunggu konfirmasi dari mereka)."
"Kamu tahu, hanya 3 orang saja yang diterima di sana. Rasanya sangat jarang mahasiswa dengan kewarganegaraan asing bisa lolos."
Elver mengerti maksud sahabatnya itu. Berada di tengah-tengah kampus terbaik di dunia ini membuatnya berpikir sangat keras, bagaimana bisa bersaing dengan mahasiswa pintar lainnya. Pilihannya mereka harus pintar, aktif, berprestasi dan menonjol. Apalagi dari seangkatannya tidak ada lagi orang Indonesia, dia sedikit menanggung beban harapan tinggi pihak pemberi beasiswa.
---
Elver mengusap kelopak matanya, rasanya dia mulai lelah. Diputarnya kursinya, mencari-cari pemandangan hijau yang terhampar ujung di lantai satu. Beberapa staf berkulit putih merebahkan santai diri mereka di sekitar taman buatan itu.