Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

27: Pemuda yang malang 2

678 77 6
                                        


---

Perhatian:
Sesuai tema kategori ini adalah tema Dewasa. Cerita mengandung unsur kekerasan, kata-kata vulgar dan aktivitas seksual. Ini bukan untuk ditiru. Ini hanya hiburan dan karangan belaka.

---

Elver mengunggut, dihembuskan napas panjang. Netra hitamnya mewawas seolah-olah menembus kaca elevator ke ujung pemandangan laut. Apartemen atau Penthouse 145 Hudson itu adalah aset yang ia beli sebagai tempat tinggal dan juga beberapa rekan kerjanya. Rasa leganya mengular ke seluruh tubuhnya. Kabar gembira itu baru saja di sampaikan Oliver. Mereka berhasil mencapai target pendapatan yang fantastis hari itu. Dipeluknya tasnya, lalu segera dirogohnya ponselnya. Jarinya mencari-cari nomor ayahnya... Untuk mengabarkan berita baik ini...

"The door will open."

Suara dari elevator itu membuat Elver tertegun beberapa saat. Baru saja menemukan nomor ayahnya, pintu pun Elevator terbuka.

"Surprise!"

Oliver, Shane dan Lowi berdiri di depan pintu dengan wajah riang. Letupan tutup champagne dan pecahan Confettii menyambut Elver yang bengong.

"A... Apa yang terjadi?" Elver masih saja bengong ketika rekan kerjanya itu menariknya keluar elevator.

"Kamu tahu kabar terbaik hari ini?" Oliver menyorongkan gelas kristal kepadanya.

Otak Elver seperti konslet saja. Padahal dia sedang berpikir menelepon ayahnya... Untuk... "Oh... Tentu saja aku sudah membaca rekening koran yang kamu berikan, Oli."

"Yes, congratulation, Mr. Elver." Shane menuangkan champagne ke gelas yang dipegang Elver.

"Eh, dia belum 21 tahun," Lowi tertawa.

Ah, tidak apa-apa. Tidak ada yang tahu." Oliver merangkul Elver menuju ruang tamu.

Elver melebarkan matanya. Ketika perempuan-perempuan cantik dengan pakaian super minim langsung menghambur ke pelukannya.

"A... pa... I... Ini..." Elver langsung gagap. champagne tumpah sedikit mengenai pakaiannya. Ponsel digenggamannya pun hampir terjatuh.

"Sudah jangan kaku begitu, anggap saja mereka hadiah untuk Boss muda kita ini." Wajah Oliver terlihat senang, pria berkacamata itu melirik penuh nafsu ke arah tubuh keempat perempuan itu. "Kamu boleh bersenang-senang, para perempuan ini melayani dengan profesional."

Elver memincingkan matanya. Bagi Elver, Suara tawa genit dan bau wangi menusuk sangat mengganggu. Belum lagi jantungnya berdebar hebat ketika mereka meraba-raba tubuhnya. Elver memang tidak pernah dekat dengan perempuan apalagi diraba-raba intim seperti ini.

"... Wait! Iam sorry!"

Elver meninggikan suaranya dan mengangkat kedua tangannya. Ketiga perempuan itu saling berpandangan. Elver meletakkan gelas champagne-nya dan menatap Oliver sambil menggelengkan kepalanya.

"Hei, sesekali kamu harus menikmati pesta, Elver." Oliver pun tahu, kawan baiknya itu tidak suka dengan cara ini. Tapi... "Kamu bukan Gay, Kan?"

Elver mengeluh kesal. Dia langsung melangkah cepat ke arah tangga kamarnya.

"Hei, Elver! Jangan marah seperti itu!"

Elver mengabaikan saja teriakan Oliver. Dirinya tidak marah, hanya saja ini bukan kebiasaannya. Selama ini dia membiarkan rekan kerjanya itu melakukan apa pun di tempat tinggalnya, asalkan pekerjaannya selesai. Elver memahami, mereka adalah pria dewasa yang memiliki cara kesenangan tersendiri. Walau pun kali ini dia keterlaluan.

R A H A S I ACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang