Tidak ada manusia yang sempurna, semua menepati jati dirinya secara tepat. Beberapa bersembunyi di balik rahasia yang mengejutkan, bahkan beberapa di antara mereka menangis di sepanjang hidupnya. Luka-luka sisa goresan masa lalu memang tampak pudar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lea berhenti di ujung tangga. Cahaya lampu meja di ruangan tamu cukup temaram, menemani kesibukan Elver.
"Padahal kamu bisa mengerjakannya di tempat tinggalmu sendiri. Apakah masih belum selesai?" Tanya Leanna sembari meletakkan selimut dan beberapa bantal di sofa.
Elver menaikkan bola mata, ketika perempuan cantik itu memecahkan konsentrasinya. "Jangan khawatir, sebentar lagi aku menyelesaikan pekerjaanku," jawab Elver. Dia mengambil gelas air minumnya, lalu meletakkannya kembali... ternyata gelas itu sudah kosong.
"... Baguslah. Kalau begitu, aku tidak perlu mengajarimu," celetuk Lea. Dia mengangkat gelas minum milik Elver.
"Aku tidak perlu bantuanmu, aku cukup cerdas. Mungkin saja dalam 2 tahun ini, aku bisa menduduki jabatan manajer," seloroh Elver, matanya mengikuti langkah Leanna ke arah dispenser air minum.
"Hahaha. Ya, silahkan kamu bermimpi," ejek Lea membalasnya. Dia menyalakan lampu dapur.
Elver menopang dagunya. "Bagaimana kalau aku benar-benar menggantikan posisimu?"
Lea memutar bola matanya. Ini sudah pukul 11 malam, dan Elver masih saja mencari bahan berdebat dengannya. Meski pun bercanda, tetapi mimik wajahnya tidak terlihat lucu, jelas saja membuat orang naik emosi!
"Kalau begitu, aku yang akan menjadi direktur menggantikan pak Kalandra. Sangat tidak mungkin kamu berada di atasku!"
"... Hahaha. Jawaban yang bagus." Elver cerah memandangi Leanna. Baginya, perempuan itu sangat cantik mengenakan setelan piyama longgar dengan motif kotak-kotak. Wajahnya bersih tanpa make up, lebih segar tanpa polesan lipstik merah. Elver lebih senang melihat penampilan Leanna seperti ini.
"... Berarti pagi-pagi sekali kamu harus ke Samboja?" Pertanyaan Lea memecah perhatian Elver. Dia mematikan tombol air yang sudah memenuhi gelas.
"Ya, aku sudah janji dengan supervisor lapangan, sekitar pukul 5 pagi. Kami akan bertemu di Samboja. Mungkin pukul 3... aku akan pulang... Mandi... Dan ganti seragam."
"Hm, kalau begitu istirahatlah sekarang. Minumlah air hangat ini." Lea meletakkan gelas di samping laptop Elver.
"Biasanya, jam segini aku minum bir." Elver masih menyangga wajahnya, matanya tidak lepas memandangi Leanna. Sampai-sampai Leanna salah tingkah menggaruk-garuk dahinya.
Lea mengangkat bahunya. "Sayangi livermu. Aku saja sangat jarang minum alkohol, sesekali minum wine... Itu pun karena menghadiri acara bos-bos besar."
"Ya, kalau aku mudah tidur, tentunya aku tidak akan minum bir atau alkohol. Aku juga sayang liverku," kelakar Elver, sembari merapikan beberapa kertas yang cukup berantakan di atas mejanya.
Lea menelaah ucapan Elver. Begitukah caranya untuk tertidur? Tampaknya dia juga punya masalah besar. "Jadi benarkah kamu tidak bisa tidur, karena selalu bermimpi buruk? Sebenarnya apa yang terjadi?"