Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

16: Pria Alpha Dominan

2.2K 117 5
                                        


----

"Iya, Ibu. Aku janji langsung pulang ke rumah, hari ini." Lea melirik ke arah Elver yang berdiri di depan etalase toko buku. "... Karena tadi malam ada urusan mendadak."

"... Urusan? Dan kamu baru membalas pesan ibu sekitar jam 2 pagi. Ibu benar-benar khawatir kalau terjadi hal yang buruk." Nada bicara ibunya terdengar sedikit meninggi. Wajar saja ibunya khawatir, Lea memang tidak pernah menginap tanpa ijin terlebih dahulu

"Ehm, iya, Ibu. Maafkan aku..."

"Apakah kamu menginap dengan Elver?"

Jantung Lea berdegup, lalu menepuk dahinya. "Ke... Kenapa tiba-tiba ibu menyebutkan nama Elver?"

"Kalau ada Elver, Ibu percaya ada yang bisa menjaga anak perempuan."

Lea menggaruk dahinya. Ini sangat rumit. "Hehehe. I... iya, kebetulan ada Elver."

"Oh, syukurlah. Kalau begitu... nanti sepulang kerja, kamu ajaklah Elver makan malam di rumah."

"Ta... Tapi..."

"Sampai jumpa, Sayang..."

Lea menghela napas, ketika mendengar nada ponselnya terputus. Ternyata benar sekali kalau perasaan seorang ibu, sangatlah tajam. Entah apa reaksi ibunya, jika tahu dirinya dan Elver...

"Apa yang terjadi?"

"Astaga!" Lea terkejut, hampir saja ponsel yang dipegangnya terjatuh. "... Jangan mengejutkanku seperti itu!"

"... Apakah ibumu marah?" Tanya Elver. Dia memiringkan wajahnya, hingga ujung rambutnya jatuh mengenai keningnya. Tetapi mimik wajahnya tetap saja dingin.

"Ti... tidak. Tapi Ibu mengajakmu makan malam." Lea memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Makan malam? Apakah itu artinya aku boleh menginap di apartemenmu lagi?" Wajah Elver langsung cerah.

Lea melotot. Dipandanginya wajah Elver, sepertinya dia tidak memiliki beban apa pun. Lea pun masih ingat, bagaimana tadi pagi dia pasrah saja bercinta dengannya? Semudah dirinya menerima Elver?

"Tidak boleh menginap!" Leanna melengos, cuek melewati tubuh Elver yang lebih tinggi darinya. Segera didekatinya Suci yang menunggu di dalam mobil.

---

Damiyana mengusap, guna memeriksa luka-luka di tangan Suci. Beberapa luka-luka itu sudah mengering. "Kita harus segera melaporkan ini dan melakukan pihak berwajib melakukan visum. Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.

Suci hanya mengangguk pelan. Wajahnya pucat dan perasaannya gugup, karena Damiyana yang terus mengintrogasinya.

"Nyonya, apakah dinas sosial bisa melindunginya?" Tanya Leanna.

"Sangat bisa. Tetapi... pertama-tama kita harus pergi ke polisi dahulu untuk membuat laporan," jawab Damiyana, seraya merapikan kembali lengan pakaian Suci.

"Apakah polisi akan menangkap ayah tiriku dan teman-temannya?"


R A H A S I ACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang