Tidak ada manusia yang sempurna, semua menepati jati dirinya secara tepat. Beberapa bersembunyi di balik rahasia yang mengejutkan, bahkan beberapa di antara mereka menangis di sepanjang hidupnya. Luka-luka sisa goresan masa lalu memang tampak pudar...
Perhatian: Sesuai tema kategori ini adalah tema Dewasa. Cerita mengandung unsur kekerasan, kata-kata vulgar dan aktivitas seksual. Ini bukan untuk ditiru. Ini hanya hiburan dan karangan belaka.
---
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"... sakit?"
"Ti... Tidak."
"Kamu yakin ini tidak sakit?" Nona D menekan ujung heels merahnya*****
Nona D tersenyum di balik topengnya.
"Anak nakal! Kenapa kamu begitu ****. Napasnya terus menderu, terlihat dari gerakan dada dan perutnya yang bergerak cepat.
"Saya anak nakal! Saya anak nakal! Tolong hukum saya, Nona D!" Pekiknya, dia sangat haus ingin****
******
Nona D membuka ikatan mata pria yang dia tidak ingat namanya itu. Pria itu melekatkan pandangan, berusaha menembus mata di balik topeng Nona D. Dia tersenyum terlihat sangat puas.
"Aku sangat menyukaimu," ucap pria itu.
Nona D tertawa. Nona D menegakkan tubuhnya, dia masih duduk di atas perutnya." Tubuhmu luar biasa indah," pria itu menatap seluruh tubuh Nona D yang memakai ling seksi berwarna dan transparan.
"Sudah saatnya kamu pulang." Nona D melepaskan ikatan tangan pria itu.
"... Apakah aku bisa mendapat jadwal lagi?"
"Tidak tahu... apa kamu tidak takut cidera karena terlalu sering bermain." Nona D beranjak dari atas tubuhnya. Langkahnya terlihat genit, seraya dia mengambil rokok di atas meja
"Cukup susah mencari pemain seperti dirimu." Pria itu mengusap bekas memar di dadanya. Dia mengambil pematiknya dan menyalakan rokok Nona D.
"... Aku menyukai sikapmu tidak pernah tertarik berhubungan seks dengan submisif," bisiknya. Matanya merayapi lagi topeng Nona D, dia sangat penasaran dengan sosok asli Nona D. Dia hampir mencium bibir Nona D.
"Cobalah, mendaftar lagi... Semoga beruntung..." Nona D menjauhkan tubuh pria itu dengan kaki jenjangnya. Pria itu tertawa, dia mengangkat kedua tangannya. Permainan mereka memang usai. Jika dia memang Nona D, penjaga di luar kamar hotel akan menembaknya mati.
Pria tampan itu pun mengambil pakaiannya yang tercecer, lalu meninggalkan beberapa lembar uang dollar di atas kasur, padahal dia sudah mentransfer sejumlah uang yang banyak untuk biaya bermain. Nona D bersikap kaku, menunggunya selesai berpakaian... sampai pria itu keluar dari kamar hotel.
"Ah, akhirnya! aku benar-benar mengantuk," Leanna menghela napas panjang dan membuka topengnya kucingnya. Lea merasa konyol. Dia mengisap sisa rokok terakhirnya, padahal... sebenarnya dia tidak terlalu suka merokok.