28: Pemuda yang malang 3

687 105 9
                                        

---

Perhatian:
Sesuai tema kategori ini adalah tema Dewasa. Cerita mengandung unsur kekerasan, kata-kata vulgar dan aktivitas seksual yang menyimpang. Ini bukan untuk ditiru. Ini hanya hiburan dan karangan belaka.

Part ini ada adegan sadis, kalian boleh skip, kalau tidak kuat.

---

"Pesanannya sudah lengkap ya, Bu?"

"Iya, terima kasih." Lea membalas dengan senyum ramahnya kepada kedua pelayan. Ikan gurame bakar ukuran sedang tersaji panas, tampak menggiurkan dengan nasi hangat dan sambal terasi mangga muda.

Elver bengong meneguk air liurnya. "Apa... orang hamil boleh makan ikan bakar?" Tanya Elver sambil menyiduk nasi untuk Lea.

"Boleh-boleh saja," sahut Lea. "... Aku bisa mengambil nasi sendiri. Tidak usah repot-repot begitu."

"Tidak apa-apa." Elver menyorongkan piringnya. Asap halus masih menguap dengan wangi khas nasi pulen. "... Yang penting kamu tidak marah lagi."

"Hm, sedikit," celetuk Lea menyunggingkan senyum datar.

"Sedikit?" Tatapan Elver memicing. "Jangan begitu. Kan, kekasihmu ini belum selesai bercerita..."

Lea bermimik bersut masam. Hati yang tak nampak mata itu sebenarnya terasa diremas-remas, ada pecutan cemburu di sana. Dia tidak rela, kalau ternyata keperjakaan Elver direbut oleh seorang pelacur.

"Kok bisa sih, kamu bisa sepolos itu? Padahal kamu sepertinya cukup pintar dan tegas"

"Hm? Mau bagaimana lagi? Ketika itu aku memang tidak berpengalaman dengan perempuan seperti itu. Apalagi aku begitu percaya dengan rekan-rekan kerjaku." Elver mengambil garpunya.

"Lalu, apakah setelah itu kamu pacaran dengan Keyna? Padahal Oliver adalah pelanggannya." Tanya Lea sambil memperhatikan Elver makan ikan bakar pakai garpu.

"Sebenarnya, tidak ada ungkapan kalau kami memutuskan untuk berpacaran... tapi aku memang menyukainya."

"Apakah kamu menyukainya karena kelainan itu?" Tanya Leanna lagi. Kali ini wajahnya serius. "Media menulis perempuan 19 tahun itu adalah kekasihmu..."

Elver tidak menjawab cepat. "Tidak. Aku hanya menikmati rasa bercinta dan tidak mengerti perkara asfiksia autoerotik," jawab Elver. Dia masih mengunyah ikan Guramenya. "Seperti yang aku bilang, kamu tidak bisa mempercayai media. Kalau kamu mencintaiku, kamu harus percaya kepadaku."

"Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Kalau tadinya kamu tidak jujur." Lea membasuh tangannya di dalam mangkuk air yang disediakan.

"Apakah kita akan terus berdebat tentang ini, Lea?" Elver mengulurkan garpu yang masih terbungkus tissu kepada kekasihnya itu. "Aku benar-benar minta maaf," lanjutnya.

"Jangan menyembunyikan sesuatu yang buruk," jawab Leanna, seraya mengambil garpu yang disodorkan kepadanya.

"Maaf... Aku tidak akan mengulanginya." Elver merendahkan suaranya. Dia meyakinkan Lea kalau tidak ada lagi yang dia sembunyikan. Ujung natanya cerah, tidak berkedip untuk kesungguhannya.

Leanna pun mengangguk pelan. Dia mulai meredakan emosinya sendiri.

"Aku tidak suka makan begini dengan menggunakan alat makan," ucap Lea sambil meletakkan garpunya.

"Hm, kalau begitu cuci tangan di wastafel pakai sabun. Ingat, kamu sedang mengandung buah cinta kita. Jaga kebersihan tanganmu," cetus Elver.

Lea merinding mendengar perhatian itu. Tapi, Elver benar... "Aku cuci tangan dulu." Lea segera berdiri.

R A H A S I ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang