Tidak ada manusia yang sempurna, semua menepati jati dirinya secara tepat. Beberapa bersembunyi di balik rahasia yang mengejutkan, bahkan beberapa di antara mereka menangis di sepanjang hidupnya. Luka-luka sisa goresan masa lalu memang tampak pudar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ujung heels hitam itu menapak ke dasar lantai, kedua kaki jenjangnya langsung berputar. Leanna berdiri, memperhatikan penampilannya dari pantulan kaca mobilnya. Jari-jarinya menelisik, merapikan kancing-kancing pada pakaiannya. Hari ini dia memakai setelan jas dan celana kulot berwarna merah marun.
Satpam yang berdiri di dekatnya, melempar senyum. "Selamat Pagi, Bu Leanna," tegurnya pelan.
"Selamat pagi," balas Leanna dengan ramah. Sekali lagi dia memutar tubuhnya, memeriksa bagian belakang pakaiannya. Leanna menunduk, segera menenteng tas kulitnya dan menutup pintu mobil. Ketika menekan tombol kunci mobilnya, Leanna menyadari... Ada sebuah mobil yang terparkir tidak terlalu jauh darinya, itu adalah mobil milik Elver.
"Apakah pak Elver sudah di kantor?" Tanyanya kepada Pak Satpam yang menjaga parkiran bawah.
"Iya, Bu. Pak Elver datang sekitar pukul 5," jawab Satpam itu.
Lea ingat, hari ini adalah jadwal Elver kembali ke Tenggarong. Walaupun sudah dua hari, pria itu tidak pernah lagi menghubunginya secara personal.
"Oh, sepagi itu?"
"Iya, Bu, kata pak Elver.... Beliau malas kembali ke rumahnya."
"Hm... begitu. Terima kasih informasinya, Pak."
Leanna berjalan menuju ke arah Elevator. Isi kepala dan batinnya masih berpikir. Mengapa Elver tidak memberitahukannya? Padahal awal dia pergi, posesifnya begitu menggebu-gebu.
"Sudahlah. Mungkin dia tidak tertarik lagi untuk berbicara denganku," gundahnya tercetus.
Lea melambatkan langkahnya dan menekan tombol elevator. Dia berdiri di belakang beberapa pekerja yang juga menunggu pintu Elevator terbuka.
"... Minta cuti saja sama pihak HRD, kalau memang perutmu tidak enak."
"Aku masih harus menyelesaikan laporan stok gudang. Ini sudah mendekati akhir bulan... Takutnya, Bu Leanna rapat dadakan."
"Tapi, Bu Leanna pasti mengerti..."
Leanna mengedipkan matanya. Tanpa sadar, dia mendengarkan dua perempuan percakapan yang berdiri di depannya.
"... Nanti kalau kamu pingsan, malah satu ruangan yang panik," ucap perempuan berhijab biru itu sambil mengusap-usap punggung temannya. Matanya terangkat memandangi nomor di atas Elevator, kemudian dia menangkap ... Pantulan bayangan di depan pintu elevator. Dia langsung menelan ludahnya.