46-Jatuh

23.8K 2.1K 139
                                        

Tidak boleh pelit, vote dulu sebelum baca!!!

"DATANG SEPERTI HUJAN, DERAS DAN DINGIN LALU PERGI TANPA PAMIT SEPERTI ANGIN"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"DATANG SEPERTI HUJAN, DERAS DAN DINGIN LALU PERGI TANPA PAMIT SEPERTI ANGIN"



"Ayo ayah kita ke bandara" rengek Halza sejak tadi padahal baru setengah jam pesawat ustadz Dafan lepas landas.

"Halza sayang kalo kita ke bandara sekarang nunggu nya bakalan lama hampir sejam lebih" terang beliau mencoba membuat Halza mengerti.

"Tapi"

"Nurut sama ayah ya" usapnya lembut membuat Halza mengangguk lemah, mungkin ia terlalu bersemangat.

"Tidur dulu gih nanti kalo masuk waktu ashar ayah bangunin"

Dengan langkah gontai Halza menuju ke kamarnya lalu merebahkan diri dikasur namun tetap saja rasa kantuk tak bisa menyerangnya. Mata coklat legam terus terbuka hatinya merasa tak enak. "Kok perasaan ku nggak enak gini yah"

Mencoba membuang kegelisahan yang tak jelas dalam dirinya Halza membuka Al-Qur'an membaca ayat-ayat suci dengan indah hingga rasa itu mulai menghilang, mata nya terasa berat ia akhiri lalu kembali ke tempat tidur untuk tidur mengikuti instruksi sang ayah sebelumnya.

Entah terlalu lelap atau memang tidurnya begitu nyaman, Halza tak terusik sedikitpun padahal beberapa kali ketukan pintu terdengar dari luar. Ketika membaca Al-Qur'an tadi Halza mengunci pintu dari dalam mungkin karena rasa kantuk yang menyerang ia lupa untuk membukakan kunci sebelum tidur. "Halza" panggil sang Bunda terus mengetuk pintu namun masih nihil tak ada jawaban.

"Masih tidur mungkin" ujar sang ayah santai.

"Masuk waktu ashar mas tidak baik"

"Biar aku yang panggil" melangkah lalu mengetuk pintu sambil berkata.

"Anak ayah cantik bangun sayang katanya mau jemput suami" teriaknya membuat bunda Halza mengelus dada akibat terkejut. Halza yang tadi masih lelap tertidur tiba-tiba saja langsung duduk mendengar teriakan sang ayah. Dengan pengelihatan yang masih sayup dia mencoba mengumpulkan nyawa yang masih belum sadar sepenuhnya. Jam dinding menunjukkan pukul tiga berarti tandanya sudah masuk sholat ashar. "Pantas" gumamnya lalu segera turun dari tempat tidur dan membuka pintu.

"Nah udah bangun, kan benar teriakan ayah memang manjur" menyombongkan diri membuat bunda Halza menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. "Jangankan bangunin anak sendiri, anak buah kamu saja biasanya lari denger teriakan mu"

Halza terkekeh biarlah pertengkaran kecil kedua orang tuanya ini terus berlanjut toh itu tanda benih-benih cinta mereka. Daripada jadi obat nyamuk lebih baik dia sholat ashar dan bergegas ke bandara menjemput suami tercinta. "Lanjutin aja biar ingat masa muda, Halza sholat dulu"

DIAM Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang