Cinta yang ditemukan di rumahnya Allah?
Cinta yang muncul bukan karena rupa namun karena lantunan ayat suci yang terdengar
Halza Zafira Shaqeela seorang wanita yang berbeda karena ia jatuh cinta pada seorang laki-laki bukan karena rupa melainkan kar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"TERUS BERSABAR, KARENA DIBALIK KESABARAN ITU AKAN MEMBUAHKAN HASIL"
• • •
Gilang mendapatkan pemandangan yang sangat aneh saat memasuki rumah. Hana sedang asik bercanda tawa dengan kedua orang tuanya. Apa maksud ini semua? Bukankah mereka membenci Hana mengapa bisa seakrab sekarang.
"Itu Gilang sudah datang" beritahu papah Gilang membuat suasana hening seketika. Gilang berjalan ke arah Hana dengan tatapan dinginnya.
"Sudah aku bilang kalau ke sini beritahu aku, kenapa kamu tidak pernah mengerti".
"Lang dengerin dulu" ujar Hana menenangkan.
"Gilang" panggil mamahnya dengan lembut. Dia menatap ke arah wanita paruh baya itu, jujur di lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat merindukan wajah itu. Gelak tawa serta candaan yang selalu mereka lemparkan oh sungguh ia merindukan itu semua. Pelukan hangat, tatapan penuh kasih sayang dari seorang ibu bagaimana bisa tidak dirindukan oleh seorang anak.
"Pulang" perintahnya pada Hana.
"Ta-tapi lang".
"Aku bilang pulang Hana" nada bicaranya mulai meninggi.
"Dengerin mamah dulu Gilang".
"Apa yang mau mamah bicarakan lagi, bukannya Gilang bukan anak mamah untuk apa harus mendengar omongan yang mungkin akan menyakitkan" ujarnya membuat mamah Gilang bungkam.
"Mamah kamu merestui kita lang" beritahu Hana to the point.
Gilang diam sesaat lalu menatap ke arah mamah nya. "Apa benar yang Hana katakan?".
"Maafkan mamah nak, mamah selama ini sudah sangat egois, mamah cuma mementingkan kepentingan sendiri tanpa pernah memikirkan kebagian mu".
Sesak itu kembali Gilang rasakan, apakah benar penantian nya selama ini sudah berakhir. Hana tahu saat ini Gilang sedang menahannya tangisnya tapi mungkin ini akan menjadikan itu sebagai tangis bahagia.
"Kamu tidak ingin memeluk mamah?".
Tanpa aba-aba ia berlari ke arah mamahnya lalu memeluknya dengan erat. Papah Gilang tersenyum melihat interaksi istri serta anaknya. Bodoh sekali rasanya saat ia berusaha merusak keluarga sendiri mungkin ini yang dinamakan penyesalan selalu datang di akhir namun kebahagiaan menyertai itu.
"Maaf mah, Gilang waktu itu gak bermaksud kasar sama mamah".
"Tidak apa-apa mamah mengerti, maafin mamah juga yah" Gilang mengangguk sebagai jawaban.
"Sudah menangis nya malu dilihat calon istri, nanti Hana ilfil sama kamu" tegur papah Gilang membuat Hana terkekeh.
"Hana harus tahu mas kalo calon suaminya ini cengeng" ejek mamah Gilang membuat sang empu berusaha menghapus air matanya.