Tampan? Lumayan! Kaya? Sedikit! Duda? Pasti!
Siapa lagi kalau bukan Duo duda. Dua pria paruh baya yang sudah lama ditinggalkan oleh istri mereka. Ya, makanya itu mereka disebut Duda.
Kerjaan mereka tiap hari hanyalah bertengkar, tapi tenang saja uan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mereka berempat sedikit menunduk dan menumpukkan kedua tangan mereka di lutut mereka masing-masing. Lalu mereka saling menatap secara bergantian.
"Jadi gimana?" tanya Arka dengan raut wajah binggung.
Kedua temannya hanya menggedikkan bahunya, karena mereka juga tidak tau apa yang harus mereka lakukan. Sedangkan Kayla menatap pagar sekolah mereka yang tertutup rapat dengan wajah lesunya.
Ya! Mereka sudah terlambat setengah jam lalu. Dikarenakan mereka berjalan kaki dan terus saja beristirahat seraya memakan buah-buahan masak yang mereka lihat.
"Kafe Papa," sahut Kayla tanpa menatap ke arah ketiga lelaki itu. Sebenarnya mereka bisa saja masuk, tetapi Kayla sedang tidak mood untuk belajar sekarang.
Nanti dia akan meminta materi pembelajaran dengan teman sekelasnya saja. Ya, Itu lebih baik.
Arka tersenyum lebar, ide yang bagus! Jika Kayla yang membawa mereka sangat kecil kemungkinan mereka untuk di ceramahi oleh papanya.
Hey! Kayla itu anak gadis satu-satunya dan juga anak bungsu di keluarga itu. Jadi ia memiliki pengaruh besar di dalam keluarga.
"Kay, mau es teh nggak? Haus nggak? Capek pasti, ya?" tawar Arka seraya meletakkan tanggannya di atas pundak sang adik.
Kayla mendelik sekilas ke arah Arka. "Boleh! Abang dua belakang juga di beliin."
Arka tersenyum kecut. Bisa habis duitnya kalau begini. "Mereka punya uang sendiri Kay," bujuknya.
Al dan Bara kompak menggelengkan kepala mereka lalu melangkah cepat dan berhenti di hadapan Kayla. "Bapak tadi kelupaan ngasih jajan, Kay," ujar Al dan di angguki setuju oleh Bara.
Itu memang benar, biasanya Ujang memberi mereka jajan di pagar sekolah. Karena tadi ada sedikit insiden yang membuat mood pria itu memburuk. Pria itu sampai lupa untuk memberikan kedua anaknya jajan.
"Jadi?" tanya Kayla dengan alis yang bertaut ke arah Arka.
Arka mencebikkan bibirnya kesal. "Ayo!" ajaknya dengan wajah yang tidak sepenuhnya ikhlas.
"Harus ikhlas, Ka! Ntar gue mencret," sahut Bara kala melihat tampang Arka yang tidak bersemangat sama sekali.
"Lo yang mencret bukan gue!" ketus Arka kemudian ia mulai melangkahkan kakinya dengan posisi masih merangkul sang adik.
Kayla hanya menatap wajah ketiga pria itu secara bergantian. Ia tidak ingin berbicara sekarang. Em, kalau di ingat-ingat ia memang jarang berbicara, sih.
"Jangan gitu dong, Ka! Sempak gue nggak sebanyak sempak lo," lirih Bara lagi.
Arka mendelik sinis. "Darimana lo tau sempak gue banyak? Lo ngintipin isi lemari gue, ya?" tuduh Arka.
Dengan gesit Bara meraup wajah Arka kasar. "Suudzon lo! Lo kan orang kaya, udah pasti sempak lo banyak."
Hey! Iya, tak iya juga! Arka menggaruk kepalanya pelan. "Jalan! Ntar kelamaan kita sampe ke kafe Papa," tegur Arka karena sudah capek berdebat dengan temannya itu.