Duo duda [Part 31]

1.8K 149 5
                                        

Langit malam membentang gelap dengan bintang-bintang yang bersinar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langit malam membentang gelap dengan bintang-bintang yang bersinar. Suara gemuruh angin dan desiran daun-daun di pepohonan sekitar menciptakan latar musik yang menenangkan. Dan beberapa tanaman hias yang bergantung, menambahkan sentuhan alami yang mempesona.

Seorang gadis duduk sendirian di atas balkon sana, sorot matanya terlihat kosong dengan kedua tangan yang terkepal erat. Rambutnya berkibar perlahan ditiup angin malam. Di sekelilingnya, lampu kecil memberikan sentuhan hangat, tapi ekspresi wajahnya mencerminkan emosi yang mendalam.

"Mati, mati, mati, dia harus mati!" teriaknya, sebuah jeritan yang mencerminkan kemarahan yang tak terkendali. Dengan tiba-tiba, ia bangkit dari duduknya, menghentakkan kursi yang didudukinya dengan keras, menciptakan dentuman yang memecah keheningan sebelumnya.

"Waktunya telah habis! Lima tahun, selama lima tahun gue udah biarin di hidup dengan damai di dunia ini!" Mata penuh emosi menerawang ke masa lalu yang kelam.

Dengan gelengan kepala, ia mengekspresikan kemarahan yang mendalam, seolah-olah mengingatkan dirinya sendiri akan waktu yang terbuang begitu saja. "Sekarang udah waktunya ia membayar semuanya!" tekannya.

Sebuah jeritan terdengar lagi, "Arghh! Dia harus mati! Harus mati!" teriakannya memecah malam, seiring dengan suara keras bunga gantung yang dibantingnya dengan penuh kemarahan. Balkon kamar kini menjadi saksi bisu dari keputusasaan dan keinginan balas dendam yang membara di dalam dirinya.

"Hey, tenang sayang, tenang." Seorang gadis yang lebih tua beberapa tahun darinya tiba-tiba saja datang dan dengan cepat mendekap hangat tubuhnya, berusaha menenangkannya dengan sebuah elusan lembut di kepala.

"Dia bahagia, Kak," lirih gadis itu dengan sorot mata yang memancarkan kesedihan.

"Sedangkan ..." Gadis itu menunjuk dadanya dengan sedikit keras. "Sakit," lanjutnya dengan air mata yang mulai mengalir dari pipinya.

"Sakit banget rasanya, kak," keluh gadis itu sambil menangis pelan, tatapan matanya mencerminkan kepedihan yang mendalam.

Gadis yang dipanggil kakak menangkup lembut pipi gadis itu. "Ssh, Kamu tenang aja, sayang. Kakak di sini, kakak akan urus semuanya." Sambil berkata, matanya melihat tajam ke mata gadis tersebut, memberikan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dengan lembut, dia menyeka air mata yang masih menggantung di pipi gadis itu.

Gadis itu mengangguk lemah kemudian tersenyum kecil. "Lakukan secepatnya, Kak," pintanya sambil meraih tangan kakaknya, sebuah harapan tergambar jelas di wajahnya.

"Ya, dengan senang hati."

***

Wanita itu terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Dalam mimpi buruknya, bayangan suaminya yang meninggal muncul kembali, memenuhi ruang tidurnya dengan kegelapan yang mengancam.

Nafasnya terengah-engah, ia meremas rambutnya dengan kasar, mencoba menyelusuri jejak-jejak mimpi yang terasa nyata. Matanya memancarkan ekspresi takut.

Duo Duda [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang