Tampan? Lumayan! Kaya? Sedikit! Duda? Pasti!
Siapa lagi kalau bukan Duo duda. Dua pria paruh baya yang sudah lama ditinggalkan oleh istri mereka. Ya, makanya itu mereka disebut Duda.
Kerjaan mereka tiap hari hanyalah bertengkar, tapi tenang saja uan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zico menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan jejak-jejak yang berkelana di dalam pikirannya, tidak seharusnya ia mengingat kenangan yang cukup pahit itu.
Ia menarik nafasnya sejenak lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Di mana Shaka aye? Kenapa kalian tidak mengajaknya bolos juga?" heran Zico kala tidak mendapati sosok anaknya bersama dengan kumpulan pria-pria remaja itu.
Ya, ya, ya, lebih tepatnya anak Kenzo dan anaknya—Emm, anak orang. Dia tidak mengetahui siapa nama bapak dari kedua lelaki itu.
"Lah, mana kita tau, Om. Om pikir kita bapaknya," sewot Arka seraya memberikan delikan sinis.
Zico mendengus kesal. "Om colok lubang hidung kamu, ya, Ka," geramnya saat Arka—anak dari teman sekaligus musuhnya itu berbicara seperti itu kepadanya. Hatinya itu sangatlah rapuh, ia tidak bisa mendengar kata-kata kasar seperti itu.
"Alay," sarkas Kenzo sambil menumpukan pergelangan tangannya di bahu kiri Arka.
Mendapatkan belaan dari sang Papa membuat Arka tersenyum lebar dengan hati yang puas. Apalagi kini Zico menampilkan wajah cengonya.
Lihatlah mulut yang terbuka lebar itu sangat, sangat, sangat buruk untuk dipandang.
"Mukanya udah jelek jangan ditambah jelek lagi. Kadar kejelekannya udah mencapai titik terendah di atas awan hitam," cibir Kayla dengan wajah tak berdosanya.
Seketika Zico mengatupkan bibirnya. "Jahat kalian! Mentang-mentang kalian keluarga sedarah," sendu Zico dengan mengusap bawah hidungnya kasar dan itu mampu membuat Kenzo dengan kedua anaknya itu secara kompak memutar kedua bola mata mereka malas.
"Oh my good jantung hati pisang gue? Ngapain di sini? Ditempat haram ini? Bukannya sekarang waktunya sekolah!" teriak seorang gadis dari kejauhan dengan rambut yang di kuncir kuda.
Seketika Zico melebarkan senyumnya saat melihat keberadaan keponakannya. "Valen ponakan Om tersayang. Liat Om dibuly sama keluarga yang lumayan kaya itu," adunya dengan tampang teraniaya.
Valen seketika menghentikan langkahnya dan menatap Zico dengan kepala yang sedikit ia miringkan. "Kita kenal?" tanyanya dengan wajah binggung.
Lagi, lagi Zico membulatkan kedua matanya. "Om balikin kamu ke orang tua kamu di jerman! Liat aja!" ancam Zico.
Valen dengan cepat menarik kedua sudut bibirnya ke atas, kemudian mengarahkan kepalanya untuk menatap wajah Kenzo. "Om mau adopsi anak nggak?"
"Enggak!" tolak Kenzo cepat.
"Tuh! Cuma Om yang mampu melihara kamu! Orang tua kamu aja buang kamu ke sini," ketus Zico dan membuat Valen mencebikkan bibirnya kesal.
"Adopsi jadi menantu, Om?" tawar Valen lagi terhadap Kenzo.
"Kagak! Lo terlalu tua untuk gue yang imut, Kak." Bukan Kenzo yang menjawab melainkan Arka. Lelaki itu menjawab dengan wajah sinisnya.
"Kok kalian jahat sama gue, sih? Gue capek-capek terbang dari pulau pulu-pulu ke sini, melewati lembah kehidupan demi kalian, tapi ini balasannya? Ini! Kalian memang tidak memiliki hati! Gue kecewa!" ujar Valen kecewa seraya memegang dadanya seolah-olah seperti orang yang merasakan sakit yang amat nikmat. Ow, maksudnya sakit yang teramat dalam.