Duo Duda [Part 16]

3K 367 8
                                        

Zico merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah selesai membersihkan badannya yang sudah cukup berbau keringat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Zico merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah selesai membersihkan badannya yang sudah cukup berbau keringat. Ya, ia baru saja selesai mencuci piring di restoran milik Kenzo satu jam yang lalu. Fiyuh! Ternyata seperti ini rasanya kerja tapi tidak digaji.

Manusia duda satu itu memang tidak memiliki hati nurani. Untung saja ia tadi sempat mencuri beberapa kantong lauk pauk untuk ia bawa pulang ke rumah.

Zico dengan cepat bangkit dari posisi berbaringnya dan berjalan dengan tergesa-gesa ke arah meja yang berada di dalam kamarnya.

Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat bermacam-macam menu makanan mahal yang tersaji di meja makan. Ya! Dalam mencuri lauk ia juga harus milih-milih. Ia harus mencari lauk yang setidaknya bisa membuat sang pemilik restoran sedikit bangkrut.

Handphone yang berada di atas meja ia ambil lalu dengan cepat mencari aplikasi yang berbentuk seperti kamera. Ia harus pamer ke Kenzo dahulu, bahwa ia berhasil mencuri makanannya.

"Halal, halal, halal," ucapnya sebelum memasukkan makanan yang ia curi ke dalam mulutnya.

"Ini anak gue ke mana, sih? Jam segini kok enggak ada di rumah?" monolog Zico kala mengingat ia tidak melihat wujud anaknya sama sekali saat pulang dari kerja paksa tadi. Kemana gerangan kah manusia berjenis kelamin pria itu pergi?

Zico mengedikkan bahunya. Pasti pria itu sedang berada di lampu merah sambil membawa gitar kesayangannya kemudian berteriak Ayee! Ya, ya, ya, ia sudah tau tabiat dari anaknya itu.

***

Mata sebelah kiri Kenzo sedikit ia buka untuk melihat keadaan sekitar. Dalam hitungan detik ia kembali menutup kedua matanya rapat-rapat.

"Kenapa Juminah jadi-jadian itu belum pulang," batin Kenzo kesal saat melihat pria yang merupakan bapak dari Al dan Bara masih berdiri di ujung kasur dengan sesekali merapikan wig-nya yang berwarna pink terang.

"Bang, mending bawa bapaknya pulang, deh. Kalau enggak papa enggak bakalan bangun-bangun," pinta Kayla yang sudah bosan melihat papanya pingsan selama satu setengah jam. Bukannya ia tidak tau jika papanya itu hanya berpura-pura pingsan.

Dia adalah anaknya, jadi ia cukup hapal dengan tingkah laku dari papanya itu.

"Tidak! I want tunggu here. Soalnya I want jadi rich," putus bapaknya Al dan Bara seraya bersedekap dada. Sebut saja namanya Jengkol—Ujang suka ngengkol.

"Om kalau mau kaya nikahnya sama janda kaya dong. Jangan sama duda kaya. Itu perbuatan—"

"Dosyaa," sambung Arka dengan wajah yang di buat-buat seperti orang yang sedang memberikan sebuah nasehat.

Kayla menjentikkan jarinya tanda setuju dengan ucapan yang dilontarkan oleh sang Abang. "Kalau banyak dosya nanti masuk?"

"Hell," sahut Arka lagi dengan senyum manisnya.

Duo Duda [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang