Tampan? Lumayan! Kaya? Sedikit! Duda? Pasti!
Siapa lagi kalau bukan Duo duda. Dua pria paruh baya yang sudah lama ditinggalkan oleh istri mereka. Ya, makanya itu mereka disebut Duda.
Kerjaan mereka tiap hari hanyalah bertengkar, tapi tenang saja uan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mentari pagi sudah kembali menampakkan dirinya. Terlihat putra dari Kenzo sedang duduk di ujung bawah tangga seraya mengikat tali sepatunya.
Sedangkan Kenzo tampak sibuk sekali didapur seperti biasanya. Yaitu memasak sarapan untuk kedua anaknya sebelum berangkat kesekolah.
Dulu waktu istrinya masih hidup, ia memang selalu ikut andil dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Tentunya juga karena ia hobi memasak makanya ia membuka restoran dan juga kafe.
Di rumah ini memang tidak memiliki pembantu, sejak mereka berdua menikah hingga sekarang. Entahlah, mereka lebih nyaman hidup dengan keluarga kecil mereka tanpa ada orang asing di dalam rumah.
Hanya saja mereka akan menyuruh orang untuk membersihkan taman dan rumah seminggu sekali.
Kenzo menolehkan kepalanya ke arah wastafel, seketika bayangannya dengan mendiang istrinya muncul begitu saja.
"Kamu tau nggak, sih, kemaren Zicokesandung kakinya sendiri." Cerita Kenzo antusias seraya mengaduk nasi goreng yang ada di dalam wajan.
Sang istri yang sedang mencuci piring melirik suaminya sekilas. "Terus?"
"Jatoh dong sayang, enggak mungkin terbang," sahut Kenzo gemas.
Tisha—Istrinya Kenzomeletakkan tangannya di bawah air yang mengalir. Akhirnya cucian piringnya selesai juga. Ia perlahan mendekat ke arah Kenzo dengan senyum tipis. Tanpa aba-aba ia memeluk sang suami dari arah belakang. "Perut kamu udah enggak ada ototnya, jarang olahraga, nih, pasti," ucap Tisha seraya menggosok-gosokkan tangannya di baju kaos abu-abu yang dikenakan oleh sang suami.
Kenzo melirik ke arah belakang, tampak disana sang istri menatapnya dengan senyum tipis dan kedua alis yang ia naikkan seperti orang yang tengah meledek.
"Mau bangunin anak-anak dulu." Sang istri langsung saja ngacir pergi keluar dari dapur.
Sedangkan Kenzo melirik baju bagian depannya yang basah akibat ulah sang istri. "Untung cinta," gumamKenzo dengan menghembuskan nafasnya pelan.
Kenzo tersenyum lebar dan mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar begitu saja. Ah, Ia jadi merindukan mendiang istrinya.
Perhatiannya kini teralih ke meja makan, tepatnya ke arah putranya. Lihatlah pria itu, pria itu sangat mirip dengan mamanya. Mulai dari tingkah laku, hobi, wajah, warna kulit dan banyak lagi. Pria itu merupakan duplikat dari istrinya, hanya saja berjenis kelamin pria.
Ia mengusap pipinya dengan cepat. Tidak boleh ada air mata yang masih menempel di wajahnya. Lalu kemudian ia mengubah ekspresinya menjadi tersenyum lebar.
"Di mana, Kay?" tanya Kenzo seraya menyajikan semangkok nasi goreng yang selesai ia masak.
Arka menggedikkan bahunya. "Mungkin bentar lagi turun."