Tampan? Lumayan! Kaya? Sedikit! Duda? Pasti!
Siapa lagi kalau bukan Duo duda. Dua pria paruh baya yang sudah lama ditinggalkan oleh istri mereka. Ya, makanya itu mereka disebut Duda.
Kerjaan mereka tiap hari hanyalah bertengkar, tapi tenang saja uan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perhatian mereka seketika teralihkan ke arah seorang gadis yang baru saja terjatuh dengan tangan yang membentur lantai.
Arka, Al, Shaka dan Bara seketika berlari kecil ke arah sana untuk melihat kejadian tersebut. Disusul oleh para murid sekitar.
"Mata lo ke mana? Masa badan gue segede ini lo enggak liat!" hardik seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan menggunakan bando besi dkepalanya.
"Maaf, Kak," ucap gadis itu dengan kepala yang setia tertunduk. Takut? Tentu saja, ia memang takut dengan setiap murid yang ada di sekolah ini. Kecuali, dengan satu orang gadis.
Akh, memikirkannya saja sudah membuatnya hampir tidak waras.
"Maaf, maaf, maaf, selain maaf ap—" Seketika pria itu menghentikan celotehannya saat melihat seseorang yang menatapnya dengan tajam sedari tadi. "—Eh, Ayang," sapanya dengan senyuman yang lebar.
Ia sedikit mendorong kepala gadis yang berada dibawah kakinya agar ia bisa melewati tempat tersebut dan menyusul orang yang ia panggil dengan sebutan Ayang.
Dengan santainya ia merangkul bahu gadis itu, ya, walaupun mendapatkan tatapan tajam. Namun, ia tidak peduli akan hal itu. "Ayang udah makan?" tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Gue udah bilang, jangan pernah sentuh orang gue," desis Kayla dengan penuh penekanan.
Pria itu seketika melengkungkan bibirnya ke bawah dan menatap gadis yang sedang ia rangkul dengan binggung. Setelah itu ia sedikit mencondongkan badannya ke kanan dan melihat kembali siapa sosok yang baru saja menabraknya.
Sejurus kemudian ia kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum bak orang bodoh. "Ops, enggak sengaja ayang. Rambutnya menutupi wajah. Jadi maafkan Randa Ayang," jelas pria yang bernama Randa itu dengan pupy eyesnya.
Sedangkan Kayla hanya berdecak pelan tanpa menanggapi ocehan pria tersebut.
"Keranda! Jangan sentuh-sentuh adek gue!" teriak Arka dari kejauhan dengan tangan yang terkepal erat.
Baru saja Randa akan menyahut, suara seseorang mampu membubarkan mereka yang ada di sana.
"Ngapain kalian masih disini! Nggak dengar bel sekolah?"
Tanpa membantah mereka semua yang ada disana bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing tanpa terkecuali.
"Heran liat anak jaman sekarang," eluh guru tersebut dengan sebuah gelengan kepala.
***
Bel istirahat baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu, kini Arka dan teman-temannya sedang berada di kantin dengan di temani oleh Kayla.