23. MAKAN SIANG

199 31 2
                                        

"Apa boleh kita makan siang  bersama hari ini?" Ajak Jaega.

"Ehh?"

"Aku tidak akan mengira dia berkata seperti itu" gumam Rara dalam hati.

"Ya ampun! Apakah Rara mengira aku terlalu mendadak? Tapi aku sungguh ingin mengajaknya jalan!" Batin Jaega khawatir.

"Apa kau sudah punya janji yang lain?" Tanya Jaega memberanikan diri.

"Tidak! Tapi kakiku sakit sekali, aku takut aku tidak bisa jalan terlalu jauh."

"Tidak apa-apa, kita bisa makan di kantin sekolah."

"Kelasku akan segera dimulai! Sampai ketemu siang nanti, dah!" Pamit Rara tersenyum melambaikan tangan pada Jaega.

"Oke, aku akan menjemputmu untuk makan siang!" Jaega juga melambaikan tangannya sembari tersenyum lega.

Deg deg.. deg deg..

"Apakah dia akan menyukaiku?" Gumam Jaega dalam hati.

Perusahaan AS

Beberapa kali Malvin melemparkan anak panah pada papan berbentuk lingkaran yang berjarak 5 meter dihadapanya, dan setiap lemparan mengenai inti sasaran. Senyum Malvin tidak pernah pudar sejak tadi pagi. Entah kenapa dia merasa sangat senang pagi ini.

"Kenapa kau sangat senang? Apa ada hal bagus yang terjadi? Apa kau baru bertemu dengan seorang gadis baru?" Tanya Rani yang baru saja masuk dan disuguhkan Malvin yang tersenyum terus-menerus, mungkin orang lain yang melihatnya akan mengira dia sudah tidak waras?

"Apa kau sudah mengirimkan kasur baru ke Rara?" Malvin mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Rani padanya.

"Aku memilih yang terbaik untuknya. Junior Malvin tersayang, apa kau ingin menjalin sebuah hubungan yang berbeda dengan sepupu kecilmu? Apakah itu alasannya kau memperlakukan dia dengan sangat baik?" Tanya Rani hati-hati takut nanti bonusnya dipotong jika salah berbicara.

Seketika ekspresi wajah Malvin berubah dingin. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya kini menghilang begitu saja. "...jangan omong kosong, dia hanyalah adik kecilku." Jawab Malvin.

"Apakah kau masih memikirkan Yarin? Kakaknya meninggal dalam sebuah kecelakaan, itu bukanlah kesalahanmu. Kenapa kau tidak bisa mengikhlaskannya? Itu sudah bertahun-tahun, mungkin kau harus berdamai dengan dirimu sendiri." Ucap Rani pada mantan junior di kampusnya.

"Ikhlas?" Ucap Malvin pelan sembari menunduk.

Kampus Turna Inggris

"Aku bosan sekali..."

"Dosen ini lagi."

Terlihat para mahasiswa dan mahasiswi yang malas mendengarkan mata kuliah saat ini, bagaimana tidak? Ini adalah mata kuliah sejarah, selain itu dosen yang mengajar juga tidak mendukung. Ini benar-benar membosankan.

"Raja telah mengirimkan sinyal darurat palsu pada petugas dan mengacaukan para tentara hanya untuk membuat selirnya tertawa, insiden ini menyebabkan runtuhnya seluruh dinasti."

"Itulah alasan kenapa orang-orang mengatakan wanita cantik semuanya berbahaya!" Lanjut sang dosen.

Naira mengangkat tangan kanannya. "Profesor! Aku punya pemahaman yang berbeda!" Setelah mengatakan itu dia berdiri dari tempat duduknya.

"Kenapa bisa orang selalu menyalahkan wanita untuk kesalahan yang mereka tidak berbuat? Kenapa mereka tidak bisa berpikir tentang apa yang dilakukan raja adalah salah? Dia sendiri yang terobsesi dengan selirnya. Tapi apa kesalahan yang telah dilakukan oleh selir? Siapa bilang dia harus tertawa? Tidak ada seorangpun!" Naira mengutarakan pemahamannya. Menurutnya selain selirnya tidak bersalah, kenapa jadi semua wanita cantik di cap berbahaya?

~PERFECT~ [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang