2 - First Time

350 47 7
                                    

.

.

.

Pov : Lee

Aku berdiri tercengang di depan lemari besar Jimin. Mataku tidak berkedip karena terlalu kaget dengan apa yang ada di depanku. Dimana banyak pakaian wanita yang tergantung rapi dengan berbagai model dan warna.

"Kenapa tidak segera memakai baju?" Jimin mengejutkanku. Saat kutoleh ia berdiri sambil bersedekap dengan menyandarkan bahu kanannya pada dinding pembatas antara ruang tidur dan walk in closet dimana aku berada di dalamnya. Kedua matanya yang sipit memandangiku dari ujung kaki hingga kepala dimana saat ini tubuh rampingku hanya berbalut jubah mandi berwarna cokelat.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Langsung saja kutarik satu hanger dengan mini dress berwarna hitam yang menggantung dan kubawa masuk ke dalam kamar mandi.

"Ada berapa jumlah wanita peliharaanmu? Dasar mesum!" kataku dengan sinis saat melewati Jimin yang masih berdiri mematung.

Dapat ku lihat Jimin membuka sedikit bibirnya, membasahi bibir bawahnya yang tidak kering dengan lidahnya yang panjang. Benar-benar tingkah yang kubenci.

"Hei, kenapa tidak berganti disini saja!!" teriak Jimin sambil menutup pintu lemari yang penuh dengan pakaian wanita di dalamnya. Jimin tersenyum menatap pakaian-pakaian yang menggantung disana hingga pintunya tertutup sempurna. Aku tidak menghiraukannya dan tetap masuk ke dalam kamar mandi.

Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu, "Baby ..."

"AKU LEE!! BODOH!!" aku berteriak dengan keras dari balik pintu. Tak lupa suara gebrakan pada daun pintu yang sengaja ku lakukan.

"Aku tunggu di bawah," sahut Jimin dari luar dengan suaranya yang super lembut membuatku memutar bola mataku malas. Aku sudah tidak menanggapi ucapan Jimin. Dan sepertinya ia sudah pergi karena suasana di luar terasa hening.

Aku sudah selesai berganti pakaian namun masih berada di dalam kamar Jimin. Aku duduk di depan meja rias tanpa melakukan apapun. Hanya menatap wajahku yang polos tanpa make up. Rambutku yang panjang dan basah hanya aku keringkan lalu kuikat tinggi. Hingga nampak leherku yang jenjang dan mulus tanpa cacat.

Setelah beberapa saat berdiam diri, aku akhirnya beranjak dari dudukku dan keluar sesuai dengan perintah Jimin tadi.

Ketika kakiku mulai menuruni tangga, kedua mataku menyipit. Memperhatikan kehadiran seorang wanita di bawah sana yang sepertinya sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Aku belum pernah bertemu dengannya. Apa dia saudara Jimin? Atau teman? Atau kekasihnya?

Langkahku semakin dekat dan wanita itu akhirnya menyadari kehadiranku. Kuperhatikan wanita itu lumayan cantik dan terlihat dewasa.

"Seperti ini mau jadi istri Jimin, huh!"

Sapaan yang tak terduga dari mulut seorang wanita asing itu membuatku seketika naik pitam. Tanganku menggebrak meja dengan kedua mataku yang manatapnya tajam, "Jaga mulutmu, sialan!"

Melihat dari penampilan wanita itu, aku bisa pastikan usianya jauh berada di atasku tapi aku adalah Lee, bukan gadis manja dan penakut. Jadi dengan berani aku menatap tajam pada wanita yang juga sedang menatapku remeh.

"Aku juga tidak minat jadi istri pria bodoh itu!"

Kali ini wanita dengan rambut pendek sebahu itu menjadi marah, "Siapa yang kau sebut bodoh. Kau yang bodoh!"

Aku mengangkat satu sudut bibirku seraya menarik satu kursi untuk aku duduki. "Kita tidak pernah bertemu tapi kau berani marah-marah padaku," aku mengambil satu tangkup roti dengan selai strowberry di tengahnya, "Jangan-jangan kau wanita peliharaan Jimin?"

PARK & LEETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang