🥀
🥀
Lya memandangi sekelilingnya. Hari pertama dia menginjak rumah setelah berhari-hari dia menginap di hotel. Rasanya berbeda. Semuanya seperti baru. Bahkan suasananya, Lya seperti asing.
"Haaahh ..." Lya menghela napas pendek. Terdengar begitu berat dan ada kesan lelah.
Lya membuka jendelanya dengan lebar. Membiarkan sinar matahari masuk lebih banyak ke dalam kamarnya.
Udara yang dingin langsung menyapa wajah bengkak Lya. Setelah semalaman dia menangis, sekarang Lya harus dengan senang hati mendapati wajahnya yang membengkak. Kedua kelopak mata yang besar, hidung merah serta tersumbat.
Bukan pagi seperti ini yang Lya inginkan. Lya ingin pelukan hangat disertai elusan lembut dari tangan besar Jimin yang selalu menjadi favoritnya.
Kedua mata Lya memejam. Dia mencoba membayangkan bagaimana sentuhan yang dia inginkan pagi ini.
Hangat, perutnya terasa hangat. Membuat Lya melengkungkan bibirnya. Lya tersenyum ketika hangat itu menyapa tubuhnya. Benar-benar seperti nyata. Embusan nafas yang hangat juga menyapa satu sisi wajahnya hingga membuat Lya betah untuk memejam beberapa saat.
"Selamat pagi istriku,"
Seketika Lya membuka matanya lebar-lebar. Dan begitu terkejutnya dia ketika beberapa adegan yang baru saja dia bayangkan ternyata adalah sesuatu yang nyata.
Jimin sedang memeluknya. Memeluknya dengan begitu erat dan hangat.
"O--oppa ..." Tubuh Lya mendadak beku.
"Biarkan begini dulu sebentar ya?" Jimin bergumam seraya dua maniknya yang sembab memejam. Hidungnya dengan bebas membaui aroma tubuh Lya tanpa mendapat penolakan.
"Kau tidak bekerja?" tanya Lya yang masih membiarkan tubuhnya Jimin peluk dan Jimin ciumi.
"Bekerja, kau mau ikut? Siapa tau jenuh di rumah."
Jimin merapatkan sweater yang Lya kenakan lalu menahannya hingga ia tetap memeluk wanita yang begitu ia rindukan meskipun keduanya sudah satu rumah.
"Lya aku tidak mencintai Hae Mi," ucap Jimin tiba-tiba. "Semua itu murni kesalahanku. Karena aku mabuk dan pergi menemui dokter Hwang sendirian."
Lya memilih diam. Ia hanya mendengarkan dan menikmati sentuhan-sentuhan suaminya. Yang entah darimana datangnya, tapi Lya menginginkan sentuhan itu.
"Aku sudah gila—" Jimin memberikan jeda sejenak ketika hidungnya berhenti di satu titik hitam di leher Lya. "Malam itu aku pergi menemui Hae Mi. Awalnya aku hanya ingin berbagi cerita dengannya, tapi—"
"Eummh ..." Lya menggeram saat Jimin menggigit kecil lehernya. Tapi hanya sebentar, detik berikutnya Jimin meninggalkan kecupan singkat disana.
"Aku malah melakukannya tanpa sadar. Aku minta maaf sayang."
Jimin menenggelamkan wajahnya, "Aku tau maaf itu pasti sulit aku dapatkan. Tapi aku tidak akan lelah untuk terus memintanya. Aku bahkan mengabaikan—" Jimin menghentikan kalimatnya ketika ia sadar tidak seharusnya ia mengatakan itu. Sesuatu yang benar-benar sudah ia buang jauh-jauh dan tidak akan mempermasalahkannya lagi.
"Mengabaikan apa?"
Jimin mulai menjauhkan tubuhnya, "Tidak sayang, hanya salah bicara saja." Jimin membelai wajah istrinya. Wanita cantik yang terpaksa dia nikahi namun pada akhirnya justru dialah yang jatuh pada pesona seorang Lilyana.
Jimin jatuh sejatuh-jatuhnya. Entah sebesar apa cintanya untuk Lilyana sehingga ia mampu mengabaikan semua rasa sakit yang ia simpan sejak petaka itu datang. Sampai ia begitu rela membuang semua bukti yang sudah ia cari selama bertahun-tahun.

KAMU SEDANG MEMBACA
PARK & LEE
FanficJimin bertekad mencari manusia yang sudah menghancurkan hidupnya lima belas tahun yang lalu. Hingga akhirnya ia membangun sebuah firma hukum dibantu oleh Hae Mi dan teman-temannya. Siapa sangka di tengah pencarian itu Jimin justru bertemu dengan se...