22 - Sendiri saja dulu.

210 38 8
                                    

.

.

.



"Berhenti menangis Lya!!!" Ibu membentakku untuk yang kesekian kali. Wajahnya memerah, rambutnya begitu berantakan.

Dia terus menatapku dengan dua bola matanya yang nyaris keluar karena terus melotot.

Aku meringkuk ketakutan di sudut ranjang. Dengan dua kaki yang kutekuk lalu kuletakkan dagu di atas lututku.

Aku tidak berani menatap ibu. Karena setiap aku menatapnya, dia akan balas menatapku nyalang.

"Apa kau tuli?" Lagi-lagi dia berteriak padaku. "Aku lelah mendengarmu terus-terusan menangis!!"

Dengan cepat aku membungkam bibirku yang sudah kupaksa terkatup rapat. Namun masih saja aku terisak dan suara itu tidak bisa aku hentikan, justru terdengar semakin berat dan keras.

"Dasar anak nakal!!"

Aku sempat melihat ibu mengangkat tangan kanannya sebelum akhirnya pandanganku menjadi gelap dan kepalaku pusing serta berdenging karena tangan itu terasa begitu berat di kepalaku.

"Bu ... Sakit ..."






🍁🍁🍁



"Ya kan ... Ibu?" Aku menatap lurus ke arah wanita yang tengah mencengkeram gaunnya sendiri.

Di ruang tengah yang luas ini, laki-laki yang kusebut paman, lalu bibi Han, bibi Yu Ri, dan aku, kami berkumpul di dalam keheningan ini.

"L--Lya ... Ayah tidak mengerti—"

"Berhenti menyebut dirimu ayah!" Kataku dengan berapi-api. Napasku baik turun dengan cepat. Begitu pula dadaku yang terasa kian menyempit.

Aku berdiri dengan kedua kaki yang sebenarnya hampir lemas. Lututku sedikit bergetar. Di saat seperti ini aku butuh Jimin.

Sialan!

Aku masih terus memaksa tubuhku untuk berdiri dengan tegak meskipun akhirnya aku mencari pegangan pada pinggiran cabinet.

"Aku ayahmu sayang ..."

Aku mendelik dan nyaris tertawa mendengar pria itu masih bersikukuh menyebut dirinya ayah.

"Nak ... Kau sakit. Mungkin butuh istirahat," wanita yang kusebut ibu itu berjalan mendekat dan mencoba untuk menyentuhku.

"AKU TIDAK SAKIT!!!" Aku berteriak histeris sampai napasku tersengal. "AKU TIDAK SAKIT! KALIAN YANG SAKIT!!" Aku menunjuk keduanya bergantian."KALIAN YANG SAKIT!!" Teriakku sekali lagi.

"Nona ..." Tangan tua bibi Han mengusap punggungku dengan lembut dan terasa hangat.

"Kau—" aku menatap tajam pada ibu. "Wanita paling jahat. Kau tidak pantas hidup. Harusnya kau yang membusuk bukan ayahku!!"

"LILYANA!!!"

"Kalian menjijikkan," aku mulai menangis. "Berhenti membodohiku paman. Akui saja dirimu itu bukan ayahku. Ayahku sudah meninggal. Wanita ini—"

"Ya! Lalu kau mau apa?"

Aku melihat ibu sedang menahan emosinya. Dia benar-benar marah padaku. Rahangnya yang keriput tampak mengeras hingga memperlihatkan urat-uratnya.

"Aku mau kau mengakui semuanya. Apa yang aku katakan itu benar. Iya kan?" Tuntutku dengan perasaan tak terima. Kami berempat dalam kondisi tegang. Bibi Han yang berdiri di belakangku hanya terus mengusap punggungku berusaha untuk meredakan emosi yang aku yakin taka kan kunjung reda. Yang mampu meredakan emosiku hanya Jimin. Hanya pelukan pria sialan itu. Entah dimana dia saat ini.

PARK & LEETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang