Bright duduk diam dihalaman belakang rumah nya, didepannya ada kolam ikan koi milik papanya. Meski papanya garang, tapi papa bright cinta dengan hewan, jadi tak heran dirumah bright ada banyak hewan.
Papanya bright adalah seorang pengusaha otomotif, maka dari itu kenapa papanya bright marah sekali ketika tau bright malah kuliah dijurusan seni, bukannya teknik, karena siapa yang nanti akan mewarisi bisnis nya?
Sebenarnya bright tidak mau kembali kerumah, tapi melihat mama nya yang datang ke rumah win dengan menatapnya sendu membuat bright tidak tega.
"sini, kita ganti perban dulu" kata davikah yang datang dengan membawa alat yang sama persis seperti yang ayahnya win bawa saat mengobatinya.
Bright menggeleng, dia tidak mau perbannya dibuka, dia takut mamanya akan sedih melihat banyaknya luka disana.
Mamanya bright juga seorang dokter, dokter spesialis kanker dan kebetulan bertugas dirumah sakit yang sama dengan ayahnya win.
Tapi kalau soal mengobati luka seperti ditangan bright, mamanya pasti bisa.
"mama juga dokter loh bri, jangan lupa" kata davikah sambil tersenyum, dia pikir putranya tidak mau diganti perban karena takut mamanya tidak bisa ganti perban.
"bukan gitu ma.. " elak bright, tapi kemudian dia diam, dan menyerahkan tangannya yang diperban kepada mamanya, davikah dengan cepat membuka perban yang menutupi punggung tangan bright.
Dan benar saja, sesuai apa kata Naphat ayahnya win, banyak bekas tusukan atau tancapan kaca disana.
"mama gk pernah ngebiarin siapa pun ngasih goresan luka dibadan kamu, tapi lihat, semalam kamu malah.." davikah diam, tidak melanjutkan kalimat nya. Dia takut bright emosi kembali jika diingatkan soal semalam.
"iya, maaf, bri kelepasan" kata bright akhirnya sambil menundukan kepalanya.
Davikah masih terus mengobati bright, sesekali dia tiup punggung tangan bright yang membengkak itu, berharap meringankan sedikit rasa perih yang bright dapat.
"ma.. Bri mau tanya boleh?" tanya bright, davikah hanya mengangguk tanpa menjawab, dia masih fokus dengan tangan bright.
"mama sama papa kenapa sih mau jodohin bright sama Love?" akhirnya pertanyaan yang davikah tunggu keluar juga dari mulut anaknya.
Davikah diam sebentar, dia ingin menyelesaikan tugas kecilnya dulu, setelah selesai mengganti perban bright, dia lekas mentap mata kecoklatan dihadapannya, mata yang sama persis dengannya.
"Menurut kamu kenapa?" tanya davikah, bukannya malah menjawab pertanyaan bright.
Bright mengedikkan bahunya acuh, mana dia tau, kan dia korban disini. Korban perjodohan orang tuanya.
"Love itu anak baik, dia anak yang hebat banget, gak pernah mengeluh.. Selalu senyum.. Ramah.. dan cantik.." bright diam, kalau itu dia sudah tau
"dia itu bukan gadis biasa bri, dia itu kado terindah orang tuanya, orang yang dulu berjasa buat papa sama mama"
Bright mengeryitkan dahinya, bingung dengan apa yang mamanya katakan.
"kalau bukan karena kebaikan hati mamanya, kamu gk akan bisa lahir kedunia ini"
"mamanya love itu yang membantu mama supaya bisa melihat kamu didunia, dulu mama sama papa gk ada biaya buat lahiran kamu setelah perusahaan papa bangkrut, tapi karena malam itu kita ketemu sama mama nya love yang dengan baik hatinya mau membiayai persalinan mama, akhirnya kamu bisa lahir dengan sehat"
Oh bright akhirnya paham, kemana arah cerita mamanya, intinya mama dan papa nya ingin berterima kasih dan membalas jasa kedua orang tua Love.
"sejak kamu lahir, papa dan mama sepakat untuk jodohin kamu sama Love, bahkan waktu itu love belum lahir"
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny
Hayran KurguBright rasanya mau mati ketika mendengar win berkata "..Lo udah janji, jadi tolong.. Please terima dia, Tepatin janji lo ya bri.." setelah mereka having sex, membuat bright sesak. "but win, can we still together after that?" bright masih mencoba u...
