"Bri, bangun!"
Win berkacak pinggang, melihat bright yang tidak bergeming sedikitpun, dia tidak bisa berteriak membangunkan pria itu, karena bright bukan bujangan lagi, diapartement ini ada 2 bocil yang sedang tidur juga.
Kalau dulu, ketika mereka masih anak kuliahan, win bisa seenak jidat berteriak membangunkan bright.
Sekarang sudah jam 8 pagi, win yakin sekali kalau kedua bayi dikamar sebelah itu pasti tidak diajak jalan-jalan oleh bright.
"mau jadi apa dua bayi itu kalau gak ada gw" kata win, kasihan dengan nasib Mick dan Fort yang memiliki ayah seperti bright.
Win lekas keluar dari kamar bright dan masuk ke kamar love, atau sekarang jadi kamarnya Mick dan Fort.
Win tersenyum melihat kedua bayi kembar tak indentik itu, mereka tengah bermain bersama, win berjongkok untuk mengecek mereka yang tengah berada ditempat tidur nya.
"eh? Udah wangi? Kalian udah mandi?" heran win, melihat mick dan fort yang sudah harum bedak bayi dengan wajah belepotan bedak.
Win tersenyum, ah ternyata dia salah, bright sudah memandikan mereka, itu berarti mereka sudah berjemur pagi.
"makanya, jangan negatif mulu pikiran tuh" omel bright yang datang menghampiri win.
"makasih yaa.. Udah mau mandiin mereka, gitu dong.. Jadi papa yang baik" kata win, bright tersenyum masam, padahal setelah win pulang ke toko nya, yang menjaga dua bocah ini sampai tidak ada lecet sedikitpun ya bright.
"kamu juga, jadi mae yang baik dong, jangan pergi terus.." kata bright, membalas win.
Win tersenyum, kemudian dia menghela nafasnya.
Dia tau apa maksud bright, bright masih saja bersikeras meminta win untuk tinggal bersama dengannya.
Sudah berkali-kali juga win tolak, win tidak bisa, win hanya sebatas Orang tua asuh untuk Mick dan fort, tidak lebih. Lebih tepatnya dia tidak mau berharap lebih, meski bright sudah terlihat menganggap win lebih, win masih belum siap dengan hubungan baru.
Meski sebenarnya pun perasaan win untuk bright semakin besar. Dia hanya takut ditinggalkan lagi.
Bright yang menyadari betapa keras kepalanya win, lekas mengehela nafasnya, mungkin memang belum saat nya.
"sesekali nginep sini, kalau malam fort suka rewel, dan kamu tau kan aku gak pernah berhasil langsung nenangin dia?" kata bright, win terdiam, benar juga, fort dan bright itu seperti musuh bebuyutan.
"iya, kapan-kapan nginep deh" kata win akhirnya.
Bright tersenyum cerah mendengarnya.
"sana mandi, biar gw siapin sarapan" kata win mengusir bright, bright mengangguk antusias dan segera melesat ke kamar mandi.
Setelah bright pergi, win menggendong mick dan fort, membawa dua bayi itu ke ruang Tv, agar mereka bisa lebih leluasa main disana.
"Mick sama fort duduk sini ya, mae mau buatin papa sarapan dulu, jangan nakal ya" kata win, mick mengangguk patuh dan fort tersenyum, win kadang takjub, kedua bocah ini memang benar cepat sekali dewasa nya.
Mereka baru berusia 9 bulan tapi sudah bisa merespon dengan baik apa yang win katakan.
Win dengan gemas mencium kedua nya, win sayang sekali dengan mereka meskipun mereka berdua bukan anak biologis win, namun kedekatan yang sudah terjalin sejak mereka masih didalam kandungan, membuat win sudah menganggap mereka sebagai anaknya sendiri.
Setelahnya win segera menuju dapur, dari dapur dia masih bisa mengamati kedua bocah itu, jadi dia bisa dengan tenang masak.
Win memutuskan untuk membuat nasi goreng, karena bahan dikulkas sudah hampir habis, jadi dia masak seadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny
FanfictionBright rasanya mau mati ketika mendengar win berkata "..Lo udah janji, jadi tolong.. Please terima dia, Tepatin janji lo ya bri.." setelah mereka having sex, membuat bright sesak. "but win, can we still together after that?" bright masih mencoba u...
