15. Restu dari mama

835 40 3
                                        

Cepat atau lambat
Semuanya pasti akan berakhir
Ntah itu berakhir dengan bahagia ataupun sebaliknya.

*~Heldhaina Putri Arkia~*

*

*

*

*

*

"Ini pak, tugasnya".

Sesuai perintah evan kemaren, ina memberikan tugas yang telah selesai itu kepada si pencetus nya.

"Saya suka nih mirid yang rajin gini, udah rajin, kerjanyan gak asal lagi, point plus buat kalian". Ucap pak irawan memeriksa makalah yang mereka buat.

"Hehe, kami bukan rajin pak, kami hanya malas berlarut larut memikirkan tugas". Ucap ina merendah

"Jadi kapan saya praktek nya".

"Sebenarnya kalau untuk praktek, nanti berbarengan dengan murid lainnya, tapi kalau kalian emang mau sekarang juga bisa".

"Contoh praktek yang kalian ambil basket kan, itu untuk berdua atau hanya salah satu dari kalian?".

"Saya saja, karna ina sudah mengambil alih mengerjakan makalahnya pak". Ucap evan menjelaskan, iya cuku tau diri untuk tidak memiliki nilai lebih tinggi dari ina.

"Oh ok, kalian deluan aja kelapangannya untuk mempersiapkan diri, nanti saya menyusul".

Setelah mendapat arahan itu, ina dan evan langsung menuju lapangan sekolah.

"Ramai". Ucap ina mencabikan bibirnya. Melihat itu evan menaiki alisnya satu seolah bertanya "Kenapa"

"Nanti mereka liatin kamu, kamu kan punya aku, aku gak suka punya aku dilirik lirik". Ucap ina posesif.

Mendengar itu evan, langsung menoyor kepala ina.

"Mimpi lu ketinggian, udah sana minggir gue mau latihan".

"Ih anj—,". Kata ina terhenti saat ditatap tajam oleh evan.

"Hehe, gk jadi kok, sumpah gak jadi".

Cengir ina mengakat dua jarinya, lalu berjalan kepinggir lapangan, lalu duduk lesehan mengamati evan yang sudah asik dengan bolanya.

Aaa cowok gue keren banget

Dapat Yang kayak gitu udah bersyukur banget kok

Eh tapi dia udah punya pawang gak sih

Iya yang lagi duduk mantau itu

Cantikan juga gue

Ganteng sih tapi sukanya bocil

Ceweknya cantik banget

Yang kurang lebih, seperti itulah bisik bisik orang yang ina dengar. Ina memilih mengabaikan nya saja.

Melihat pak irwan sudah berada di samping evan, yang menandakan prakteknya sudah dimulai. Evan yang tidak pernah meleset saat memasukan bola kedalam ring, dan itu membuat ina berdecak kagum.

Setelah selesai ina langsung menghampiri evan dan memberikan nya minum.

"Gimana pak nilainya?". Tanya ina

"Sempurna". Bangga pak irwan

"sepertinya kalian bisa menikmati weekend kalian dengan tenang". Ucap pak irwan lalu pamit undur diri.

VaNa(ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang