40. Penjelasan Billa

885 51 5
                                        

Hidup isinya cuma
Ngalah sama ikhlas.

*

*

*

*

*

____________________________

"Gue mau ngomong sama lu". Evan menarik tangan Ina, agar gadis itu menghadapnya.

"Soal apa? Emang kamu gak sibuk?".

Evan menatap mata Ina dalam, banyak yang ingin Evan tanyakan, namun hanya hembusan nafas yang keluar dari mulut Evan.

"Hukuman lu gue perpanjang". Mendengar perkataan evan membuat
Ina melebarkan bola matanya seolah tak terima.

"Kok gitu sihh, emang aku ada salah lagi ya, Kamu jangan seenaknya dong van, jahat banget sih". Rengek Ina tak terima.

Evan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ina, kemudian bersedekap dada menatap Ina datar.
"Mengambil rekaman cctv sekolah tanpa izin merupakan pelanggaran bukan?". Tanya Evan santai.

Seketika Ina menghentikan rengekannya mendengar pertanyaan dan pernyataan dari Evan. Ina membalas tatapan Evan tajam.
"aku punya alasan , kamu kan tau sendiri kalau aku cari bukti dari masalah terror ini, emang salah ya". Ina membela diri.

"Tetap tidak dibenarkan, setidaknya meminta izin terlebih dahulu kan bisa?".

"Kalau aku minta izin emang menjamin kalau bakal di acc, lagian itu cuma bisa diakses sama pengurus sekolah, siswi biasa kayak aku gini mana bisa". Ina mendebat Evan.

"Kenapa tidak meminta bantuan pengurus OSIS? Ini perihal kenyamanan dan keamanan setiap siswa/i, berarti merupakan tanggung jawab pengurus OSIS juga".

"Emang kamu ada waktu? Bukannya kamu sibuk?". Ina malah terbawa perasaan dengan perdebatan mereka.

"Maaf anggota osis bukan hanya saya, lagian kamu bisa meminta bantuan guru". Jawab Evan terlampau formal. Ina mengepalkan tangannya kuat.

"Aku gak mau ada orang lain yang tau masalah ini, lagian kalau aku bisa sendiri kenapa harus minta bantuan orang lain, emang mereka peduli, kamu aja yang notebanenya pacar aku gak peduli apalagi mereka".

Evan tidak membalas lagi, yang tadinya menatap Ina datar, kini sorot matanya menjadi serius. Baru saja evan ingin mengeluarkan suara, Ina lebih dahulu memotong.

"Serius banget natapnya ntar naksir loh". Ina malah mencairkan suasana, jujur Ina emang tidak bisa marah dengan Evan. "Gak ada yang mau dibicarain lagikan, kalau gitu aku pergi dulu ya, soalnya ada kelas". Ina melangkah menjauh dari Evan.

"Ina—". Baru saj evan hendak memanggil Ina, namun gadis itu malah berbalik dan kembali berjalan kearahnya.

"Oh iya soal hukumannya, kamu tenang aja, bakal aku lakuin kok, dan aku minta maaf kalau aku ngerepotin kamu lagi karna masalah yang aku lakuin". Ucap Ina, kemudian pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Ina berlari kearah lapangan yang sudah di penuhi teman-teman sekelas nya. Semakin panik saat melihat sudah terdapat guru disana. Saat sudah dekat, Ina mengontrol nafasnya agar teratur, lalu berjalan pelan dengan raut wajah pasrah.

"Pak maaf saya telat, soalnya ganti baju dulu".

"Alasannya? Dan kemana baju kamu". Tanya pak Hendrik.

"I—itu pak, tadi ada sedikit tragedi yang membuat saya tidak bisa menggunakan baju olahraga saya, dan Karena itu saya menghabiskan waktu lumayan lama diruang bk".

VaNa(ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang