59. Dia?

349 19 21
                                        

*

*

*

*

*

_________________________________

Pagi ini tampak lebih cerah dari hari biasanya. Mentari bersinar memancarkan keindahan yang ia miliki. Berbanding terbalik dengan perasaan seseorang pemuda yang tengah mantap langit tersebut.

"Shit". Umpat Evan mengikat tali sepatunya.

"Woi van, baru juga pagi, udah ditekuk aja tuh muka". Kata Raka yang sudah menunggu didepan rumahnya. "Semangat anjayy, semangat, awali hari dengan senyuman". Raka excited.

Evan memutar matanya jengah setelah menatap Raka yang menggunakan outfit olahraga namun tampak sangat aneh dimatanya.

"Kenapa lu, gitu banget natap guenya". Kata Raka menatap sinis kearah Evan.

"Lu ngajak gue olahraga atau photo booth, ngapain pakai kacamata begitu". Decak Evan kesal.

"Ya Olahraga lah, lagian silau pan silau, gak liat apa tuh matahari nya terang banget".

"Serah, cepat jalan". Kata Evan manaiki motor Raka.

"habis ni temanin gue kebandara ya van". Celetuk Raka diatas motor. "Mau jemput nyokap gue, baru pulang dari Malaysia". Lanjut Raka saat tidak mendapat respon dari lawan bicara.

"Oke". Singkat Evan melajukan kecepatan menuju taman.

sesampainya ditaman Evan langsung berlari mengitari lingkaran alur olahraga lari santai tanpa memperdulikan Raka yang sudah ngos-ngosan disampingnya.

"Van udah Van, gue dah kagak sanggup lagii". keluh Raka

"sekali lagi". Jawab Evan singkat.

"ga ga ga, gue dah ga sanggup, gue tunggu disini ajaa". kata Raka ngos-ngosan menuju kursi yang ada didepannya.

setelah menyelesaikan putaran nya, Evan berjalan kearah Raka yang tengah asik tebar pesona, menebarkan senyum nya yang manis itu.

"kelar juga lu, gue kira bakal lari seharian". ledek Raka, tidak memperdulikan perkataan Raka Evan mengambil tempat di samping temannya itu lalu duduk merenung.

"Jadi gimana, masih tetap sama? atau ada perubahan". celetus Raka memecah keheningan. Evan hanya menggelengkan kepalanya.

"Mati". satu kata dari Evan.

"Apanya? Siap?kok bisa?".

"CK, perasaan gue yang mati". jawab Evan menatap Raka jengah.

"hahaha lebay lu kocak". ledek Raka tertawa, yang tidak dibalas Evan. seketika tawa Raka menjadi hambar.

"gue cuma bingung, sejahat itu ya gue, sampai Ina lebih milih pergi, gue rasa gue hampir gila cuma karna ga bisa liat dia lagi". kata Evan menyampaikan perasaan nya setelah berlari 10 putaran. Hal ini selalu mereka lakukan selama empat tahun belakangan ini.

VaNa(ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang