61. Tentang rindu yang tertahan

148 16 9
                                        

"Semesta suka bercanda
setiap masa ada orangnya
tapi balik lagi ke kita
Mau diganti atau tetap menanti"

*

*

*

*

*

"apaansi lu". Kesal Ina pada akhirnya mendorong Evan. "gue bilang gue ga kenal sama lu, jadi plis jangan asal peluk gini". Sambung ini lagi.

Evan sedikit kaget bukan karna dorongan, tapi karna perkataan gadis tersebut.

"Gue?". Tanya Evan menunjuk dirinya, yang membuat Ina menatapnya sengit. "Lu?". Tanyanya lagi sambil menunjuk Ina.

"Lu manggil gue lu na?". Tanya Evan skeptis. Ina menghembuskan nafasnya lelah.

"Oke Evan, bener Evan kan? Gue ga kenal lu, dan ga paham apa yang lu bilang, gue juga ga pengen punya masalah sama siapapun, jadi ayo bicara baik-baik". ucap Ina kalini lebih tegas. Evan menatap Ina tak terima, namun akhirnya menyetujui apa yang Ina ucapkan.

"Jangan berdiri disini, Cari tempat duduk selagi nunggu Kaka gue". Kata Ina melihat antrian yang sudah mulai ramai, yang diangguki Evan tanda setuju.

Mengikuti arah pergi Ina Evan bungkam, tidak seperti tadi yang memaksa, iya menatap lekat Ina yang berjalan didepannya. Ini Ina, beneran Ina, Ina sudah ada didepannya, tapi kenapa rasanya sulit meraih tangan tersebut. Setelah mendapat tepat yang pas untuk bicara Ina menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Evan.

"Sekarang bisa cerita, kenapa kamu bilang aku kenalan kamu". Tanya Ina lekat memandang Evan.

Evan sedikit lega mendengar sudah merubah gaya bicaranya.
"Bukan kenalan, lu emang pacar gue". Jawab Evan santai lalu maju selangkah menatap Ina yang sudah duduk dibangku tersebut.

"Ck". Ina berdecak kesal menata Evan heran. "Jelasin kenapa bilang begitu, aku beneran ga ingat kamu".

"Harusnya gue yang denger penjelasan lu, 4 tahun lu pergi ninggalin gue, 4 tahun gue cuma nungguin lu, tanpa tau lu bakal balik atau ngga". Kata Evan dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Gimana keadaan lu, gimana hari-hari lu, dimana lu berada, apa yang lu rasain, penuh tanya tanpa kabar". Kata Evan nelangsa. "Gimana penyakit lu". Sambungnya lirih, kemudian berjongkok didepan Ina menyetarakan tubuhnya. Sedikit kaget Ina mengerjapkan matanya menatap Evan yang terus menatapnya.

"Lu tau na". Ucap Evan pelan menjeda perkataannya menatap Ina dalam. "Setelah lu pergi, dunia nggak pernah bener-bener rame buat gue. Hari-hari jalan, tapi rasanya kayak kosong yang dipaksa hidup. Ada banyak hal yang pengen gue ceritain ke lu, tapi semuanya keburu mati di dada, karena orang yang paling pengen gue tuju… justru nggak ada, dunia terus jalan, cuma gue yang berhenti". Sambung Evan mengutarakan apa yang ia rasa selama ini.

Memberi tahu kepada semesta, bahwa ini yang ini, bahwa dari semua hal yang pernah hilang dalam hidupnya, kehilangan Ina adalah satu-satunya yang bikin waktu terasa sia-sia. Evan cuma ingin semesta tau, kalau berhentinya dia bukan karena dunia terlalu berat, tapi karena hatinya tertinggal di seseorang yang bahkan mungkin sudah tak mengenalnya lagi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 20, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

VaNa(ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang