12. Masih Hidup?

1.6K 141 58
                                        

Faell memberikan jaketnyan kepada Zake dan Abi untuk dijadikan pembungkus kepala Fian. Mereka tidak ingin kepala Fian di biarkan saja didalam lorong ini, walaupun mereka dengan berat hati mengikhlaskan tubuh Fian yang tidak mereka ketahui keberadaannya.

"Maaf Fi, kita ngga bisa nyari tubuh lu dimana" lirih Abi sambil terus memeluk kepala Fian yang terbungkus jaket, walaupun darah senantiasa menetes menodai baju putihnya.

"Maaf, gua tau lu pasti kedinginan kan, hikss maaf Fi, Abi mohon maafin kita semua" lirih Abi semakin menjadi-jadi.

"Zake, Fian pasti kedinginan sekarang, tapi Abi ngga tau dimana tubuh Fian sekarang" lirih Abi sesegukan.

Zake mendekap tubuh sahabatnya itu, mengelus nya lembut sambil ikut menangis tanpa suara. Raza yang entah kenapa juga tiba-tiba ikut merasakan sesak membayangkan bagaimana perasaan ditinggal sahabat secepat ini.

Saat semuanya sedang larut dalam suasana sedih tersebut, Elliza menyadari bahwa obor perlahan tapi pasti mati secara berurutan dari arah belakang Raza mendekati mereka.

"Obornya" pekik Elliza.

Semua beralih menatap arah yang di tunjuk Elliza.

"Sial! Lari!" tegas Faell menarik lembut tangan Raza.

Semua yang Mendengar instruksi Faell berlari mengikuti dari belakang, sedangkan obor tersebut malah makin cepat mati dan hampir menyusul mereka.

"Rafaell! Lu ngerasa ngga sih makin ke depan ruangannya makin sempit, udara nya making pengap" sadar Varella.

"Ckk, depan belok kanan! Kita coba jalan baru!" tegas Faell terus berlari tanpa henti.

Tepat setelah Faell berbicara, semua obor yang telah padam tiba-tiba dinyalakan kembali. Semua mendadak memberhentikan langkah mereka dengan wajah yang keheranan, namun sedetik kemudian semua obor mendadak mati sekaligus.

"Anjing!" geram Dion.

Tepat setelahnya obor kembali dinyalakan, semua saling memadandang heran satu sama lain.

"JANGAN MEMPERMAINKAN KITA BANGSAT!" Geram Dion berteriak bak orang gila.

"Dion! Tenang!" tegur Varella.

"Nanda? Nanda ngga ada!" teriak Rima histeris.

"Dari tadi lu sama Nanda kan?" tanya Zevara

"Iya, tapi saat obor semuanya mati aku ngelepas tangan Nanda kak buat nutupin mata aku, aku sadar saat obornya kembali nyala dan nanda udah ngga ada disini lagi" jelas Rima sambil menangis sesegukan.

"Udah-udah yang sabar ya" ucap Elliza menenangkan.

"Tapi Nanda udah baik sama aku, dia yang ngejagain aku Za selama kita di culik" lirih Rima.

"Iya, iya yang sabar ya" ucap Elliza sambil memeluk hangat tubuh Rima.

"Kita cari Nanda ya, please" mohon Rima.

"Mau cari kemana, kita ngga tau seluk beluk lorong ini" ucap Varella sambil mengelus punggung bergetar Rima.

"Kalian ngga mau tau, bukan ngga tau!" marah Rima dan berlari menabrak Raza hingga sedikit terhuyung ke samping dan dengan sigap Faell menarik Raza kepelukannya. (syukur ada Faell yang nahan, kalau ngga mati lu Rima di tangan author!😠)

Faell hanya mengeraskan rahangnya melihat kelakuan Rima yang menabrak sahabatnya, dengan cepat Rima berlari menuju sebuah pintu, membuka nya dengan kasar dan masuk kedalamnya.

Brakkk

"Aaaaaarghhh~"

Tepat setelah suara bantingan pintu, terdengar suara pekikan ketakutan Rima, namun sedetik kemudian suara itu terdengar serak dan menghilang total.

My Spoiled Twin [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang