Didalam toilet Elissa menutup mulutnya dengan kedua tangan, meredam tangisnya sekuat tenaga. Air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya, dada nya sakit.
Dirinya begitu iri dengan kehangatan keluarga Reza dan Raza, mereka dipenuhi kebahagiaan dan canda tawa. Sedangkan dirinya, dia bahkan dimanfaatkan oleh keluarganya sendiri.
Berulang kali dia memohon kepada Tuhan untuk memberinya keajaiban, tapi setelah keajaiban itu benar adanya dimana sang kakak dan ayah yang masih hidup, malah harus berakhir tragis.
Apa dia boleh membenci takdirnya? Apa dia boleh menaruh dendam pada Asgara dan keluarganya?
"Bunda? Elissa harus bagaimana? Dihadapan Elissa sekarang ada pembunuh bunda dulu, Elissa bingung" lirih Elissa dan terus meredam suara tangisnya.
Elissa duduk memeluk kedua lututnya dan bersandar pada dinding toilet.
"Mereka baik bunda, tapi mereka yang sudah membunuh bunda! Padahal semua salah ayah, tapi kenapa bunda juga harus ikut menjadi korban?" tangis Elissa.
"Sekarang mereka mengajak ku makan malam, memamerkan kebahagiaan mereka, seolah mengajak ku ikut merasakan kebahagiaan! Apa mereka lupa? 6 tahun aku hidup sendirian di mansion gelap, tua, dan kumuh itu" lirih Elissa.
"Aku habiskan semua waktu ku dengan mencoba melupakan semua dendam ini bunda, tapi tiba-tiba mereka datang, kakak dan ayah masih hidup"
"Aku pikir, aku akan merasakan kebahagiaan lagi, kehangatan lagi, tapi apa! Aku malah kembali kehilangan mereka! Aku, aku yang membunuh mereka dengan tangan ku sendiri!"
"Aku tidak ingin dendam ku yang sudah lama ku pendam harus muncul lagi! Karena itu aku memutuskan untuk membunuh ayah dan kakak sendiri dengan tangan ku, agar tidak ada alasan lagi untuk membenci para Vallorand itu" pecah sudah tangis Elissa.
"Aku hanya ingin kasih sayang, apa sesusah itu untuk aku dapatkan?" lirih Elissa.
Tanpa sepengetahuan Elissa, Rini mendengar semuanya. Tadinya Rini ingin melihat kenapa Elissa begitu lama?
Tok tok tok
"Elissa, ayo cepat semua sudah menunggu"
"Ah iya baiklah"
Rini berjalan kembali ke meja makan meninggalkan Elissa. Dengan cepat dan kasar Elissa menghapus air matanya, mencuci sekilas wajahnya dan keluar dari toilet.
Deg!
Didepan semuanya Asgara langsung memeluk tubuh ringkih Elissa.
"Maaf, maafkan saya dan keluarga saya yang dengan tidak tau dirinya merebut kebahagiaan mu" sesal Asgara.
Ya, Rini menceritakan semuanya dengan singkat, padat, dan jelas.
"Maaf, karena merenggut hak mu merasakan kebahagiaan. Kau boleh membenci saya, kau boleh marah, dan memukul saya sepuasnya" lanjut Asgara.
Elissa semakin mengeraskan kepalan tangannya, meredam emosi dalam hatinya, dan menahan tangisnya.
"Kau boleh membunuh saya jika kau mau" satu kalimat Asgara mengejutkan semuanya, apa-apaan Asgara.
Elissa tersenyum meremehkan Asgara. Dengan langkah pasti dia berjalan ke arah dapur, mengambil sebuah pisau dapur yang terlihat tajam, dan kembali kehadapan Asgara.
"Kau yang mengijinkan saya tuan! Jadi jangan sampai kau tarik kembali kata-kata anda" tegas Elissa.
Asgara mengangguk dan menutup matanya, bersiap menerima jika pisau dapur itu harus menembus lapisan kulit putih mulusnya.
"Asgara!" tegas Valle.
"Ayah!" pekik Gabriell
"Elissa kau gila!" geram Reza
KAMU SEDANG MEMBACA
My Spoiled Twin [END]
De TodoNOTE: Bagi yang baru baca, author saranin baca Archiell dan Gabriell dulu ya, biar ngga bingung kalau tiba-tiba muncul karakter lama😇 Dingin dan tak tersentuh sengaja dia sematkan dalam karakternya agar kehadiran/eksistensinya tidak disadari semua...
![My Spoiled Twin [END]](https://img.wattpad.com/cover/343795632-64-k238333.jpg)