Perlahan Reza membuka kedua netranya, sunyi dan tenang. Tidak ada siapapun selain dirinya di ruangan tersebut, Reza menoleh ke arah jendela dan menyadari bahwa hari telah mulai gelap. Brankar kiri dan kanan nya juga sudah tidak ada, entah kapan dipindahkan Reza tidak menyadari sama sekali.
"Ahh iya gua lupa mereka udah pulang pasti" gumam Reza.
Dengan hati-hati Reza duduk bersila memandangi jendela yang menampilkan senja yang kian menghilang.
"Senja indah, tapi sementara"
"Sshhh" desis kesakitan Reza saat tiba-tiba ada suara asing yang menyapa pendengaran nya, suara yang terasa akrab yang membuatnya tiba-tiba rindu akan sesuatu yang dia sendiri tidak tau itu siapa.
Reza melihat ke segala arah dengan wajah yang menahan sakit, kepalanya terasa berat dan seperti ditusuk-tusuk menggunakan benda tajam. Segala sudut ruangan tidak lolos dari penglihatannya, namun tetap tidak menemui siapapun.
"Suara siapa tadi!" batin Reza.
Dia kembali membaringkan tubuhnya, memejamkan matanya, berharap agar cepat tidur dan melupakan rasa sakit pada kepala nya. Cukup lama Reza memejamkan matanya hingga deru napasnya kian teratur yang menandakan bahwa Reza telah benar-benar tertidur.
Asgara masuk kedalam dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur sang putra, tadi dirinya keluar untuk mengurus surat-surat dikantor polisi mengenai penyelidikan kasus kecelakaan sang putra. Dia tau putranya juga salah karena kebut-kebutan, tapi yang dia inginkan hanya kejujuran dari dua belah pihak. Jangan kabur seperti seorang pengecut, dia tidak akan menghukum siapapun orang yang sudah terlibat dalam kecelakaan ini, cukup datang dan minta maaf saja sudah cukup untuk nya.
"Huhh" Asgara menghembuskan napas lelahnya. Dia harus ke kantor lagi setelah ini karena beberapa urusan yang harus dia tangani sendiri dan tidak bisa diwakili.
"Ayah" tegur Jayden yang baru saja masuk.
"Jay, bisa tolong bantu ayah. Hari ini ayah harus bertemu dengan klien dari Jerman yang dikenalkan daddy mu. Apa kau bisa menjaga Reza sebentar?" tanya Asgara.
"Maaf ayah, tapi hari ini aku sudah ada janji dengan pihak kampus dan kepolisian untuk kasus pelecahan salah satu mahasiswi kampus ku" jelas Jayden.
"Kasus?" kaget Asgara.
"Iya ayah, salah satu mahasiswi kami dilecehkan oleh seorang pengusaha yang ternyata menjadi salah satu donatur di kampus ku" jelas Jayden.
"Cabut semuanya! Jangan biarkan pria bejat seperti itu menjadi donatur di kampus mu! Menjijikan! Jika kampus yang kau dirikan itu mengalami kesulitan dana laporkan pada ayah, biar ayah tangani" geram Asgara.
"Baik ayah, dari awal setelah mengetahui kasusnya aku langsung menangani semuanya" balas Jayden.
"Dampingi korban hingga kasus ini selesai dan pastikan harus menang di pengadilan! Atasi sampai penanganan masalah traumanya! Ayah yakin dia pasti mengalami trauma" jelas Asgara.
"Iya ayah, baik"
"Sudah kau jalan saja, biar ayah minta tolong ke yang lain saja" tutur Asgara lembut.
"Aku sudah meminta Hersa untuk datang ke sini" balas Jayden.
"Permisi" potong Hersa.
"Pendek umur kau rupanya" Julid Asgara.
"Heii ayah! Omongan ayah! Ntar nangis paling histeris pasti ayah bukan daddy kalau misal aku mati" sinis Hersa.
"Hahaha, iya iya makanya jangan cari masalah sama malaikat maut, kalau tau ayah yang bakal nangis" ucap Asgara sambil memeluk Hersa yang langsung duduk disamping nya dan bersadar ria sambil memeluk perut sang ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Spoiled Twin [END]
DiversosNOTE: Bagi yang baru baca, author saranin baca Archiell dan Gabriell dulu ya, biar ngga bingung kalau tiba-tiba muncul karakter lama😇 Dingin dan tak tersentuh sengaja dia sematkan dalam karakternya agar kehadiran/eksistensinya tidak disadari semua...
![My Spoiled Twin [END]](https://img.wattpad.com/cover/343795632-64-k238333.jpg)