"Siapa Lika itu sebenarnya? Apakah dia sama seperti Bagus dulu?" gumamku dalam hati.
Hari ini adalah dies natalis kampus, jadi mata kuliah ditiadakan. Kami hanya mengikuti webinar dari beberapa dosen dan kakak tingkat yang sudah lulus.
Aula kampus penuh riuh dan antusiasme. Suara mahasiswa bercampur dengan tawa dan sapaan hangat antar teman. Panggung telah dihias rapi, layar LED besar siap menampilkan presentasi. Beberapa dosen dan alumni berbagi pengalaman mereka—mulai dari tantangan kuliah hingga kiat sukses di dunia kerja.
Aku celingak-celinguk mencari Laura, Retno, dan Anissa. Ada hal penting yang ingin kubicarakan sebelum webinar dimulai, tapi mereka entah berada di mana.
Tiba-tiba, dari kejauhan, kulihat seorang cowok berambut hitam diikat, mata coklatnya menatap ke kiri dan ke kanan. Ada sesuatu yang membuatku penasaran.
Cowok itu berjalan celingak-celinguk mencari kursi kosong. Saat ia mendekat, tatapannya menembus seakan ingin membaca pikiranku.
"Bangku ini kosong, kan?" tanyanya.
"I-iya kok," jawabku gugup, merasa dagu tiba-tiba berat. Kok bisa gugup gitu ya? Kutukku pada diri sendiri.
Aku memperhatikannya dari kepala sampai kaki. Kaos putih, celana panjang, jaket abu-abu sederhana—namun ada aura yang membuatnya berbeda.
"Hai... boleh kenalan?" katanya.
"Boleh. Namaku Aura Cinta, kalau elo?"
"Gue Aaron Hugo Alywar. Teman-teman manggil gue Aaron, Hugo, Aron… terserah elo aja."
"Oh, panggil gue Aura aja."
"Ok. Elo dari jurusan?"
"Sastra Indonesia. Elo?"
"Gue anak Hukum."
Aku tersenyum tipis, berpikir, kebetulan banget, aku bisa tanya soal Lika ke dia.
"Berarti elo kenal Cut Lika Ardani?" tanyaku hati-hati.
"Ya, kenapa emangnya?" balasnya.
Aku menahan diri. Baru kenal, rasanya nggak pantas langsung cerita panjang lebar.
"Eh… cuma pengen tahu lebih banyak tentang dia. Baru-baru ini gue sempat ngobrol sama doi. Kayaknya dia menarik."
Aaron menatapku seksama, senyum misterius tersungging di wajahnya. "Oh, jadi elo penasaran sama Lika ya? Memang dia cewek yang menarik. Gue punya beberapa cerita, tapi lebih seru kalau elo kenal sendiri."
Aku semakin penasaran. "Hm, rahasia kan? Nanti pasti harus diceritain ke gue, ya!"
Aaron tertawa ringan. "Siapa tahu nanti gue bagiin beberapa cerita. Tapi Lika emang spesial, nggak heran banyak cowok yang tertarik sama dia."
Kami lanjut ngobrol soal hal-hal ringan, tapi pikiranku tetap melayang ke Lika.
"Aku waktu itu nggak sengaja ketemu doi. Bukunya terjatuh," ceritaku tiba-tiba.
"Oh?"
"Di cover bukunya ada tulisan 'I Love You Budi' yang dicoret."
Aaron terkejut, matanya berbinar. "Kebetulan gue mantannya. Kita putus karena gue nemuin dia sama Budi."
Budi? Aku langsung berpikir. Budi yang mana ya?
"Ini dia," kataku sambil tunjuk foto di ponselku.
Aaron terdiam. "Elo kenal sama Budi? Kok bisa?"
"Teman SMA sekaligus mantan pacar gue."
Mata Aaron melebar, seperti nggak percaya.
"Elo mau bantuin gue nyari tahu lebih soal Lika dan Budi?"
"Untungnya apa buat gue?" tanyanya.
"Gue juga sebelumnya diselingkuhin sama Budi," jawabku.
"Hmm… boleh deh. Gue juga penasaran," matanya berbinar.
Dari jauh, aku melihat Retno dan Laura datang menghampiri.
"Ya Allah, Ra, gue cari-cariin elo! Ternyata udah di sini," kata Laura.
"Dia siapa, Ra?" bisik Retno penasaran, melirik Aaron.
"Kenalin, Aaron… anak Hukum, mantan pacarnya Lika. Katanya mau bantu kita nyari tahu hubungan Lika dan Budi," jelasku.
"Salam kenal, gue Laura, teman Aura yang paling cantik," kata Laura narsis.
"Apaan sih, Lau? Alay lo. Kenalin gue Retno," timpal Retno centil.
Aaron tersenyum, "Salam kenal semuanya. Jadi kita mulai dari mana?"
"Nanti gue jelasin setelah webinar," kata Laura.
Tadinya aku mau cerita sesuatu ke Laura, tapi ia menahanku. "Nanti aja, Ra, acaranya mau mulai."
Webinar pun dimulai. Para pembicara berbagi pengalaman, memberikan wawasan tentang tantangan kuliah dan dunia kerja, serta tips menghadapi masa depan. Kami dapat bertanya langsung atau melalui platform virtual.
Acara ini memberi inspirasi dan motivasi, mengingatkan kami bahwa perjalanan pendidikan hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang yang menantang. Setelah acara, ada kesempatan berbincang dengan dosen, alumni, atau teman sekelas, membangun koneksi dan memperluas wawasan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Admirer The Truth
RomanceSatu tahun telah melintas, Bagus kembali ke dalam kehidupan Aura setelah menghilang tanpa berita. Apakah romansa Budi dan Aura akan kandas setelah kembalinya Bagus? Apa yang membawa Bagus ke sini? Apakah menjadi petaka cinta? Atau bahkan sebaliknya...
