Tiiitt....suara patient monitor nyaring terdengar di penjuru ruangan setelah upaya terakhir dilakukan, kesedihan tergambar jelas di wajah dokter andre serta suster pendampingnya, dokter melihat kearah dinding yang tertera jam diatas lalu kembali menatap suster yang ada di depannya, mengangguk kecil sebagai instruksi bahwa semuanya telah selesai.
Dengan berat hati dokter andre melangkah kan kaki keluar dari ruangan, sedang para suster mulai melepaskan alat-alat medis.
"kiyang tunggu..." Teriak christy melihat kiyang nya terus berjalan lurus ke arah cahaya di depannya.
Ayah reza berbalik menatap cucunya dengan tersenyum, menunggu cucunya sampai di hadapannya. "kiyang harus pergi sayang,tugas kiyang sudah selesai." ucap ayah reza dengan senyum yang masih ia pertahankan.
Christy menggeleng,air matanya mulai berjatuhan, "enggak!kiyang mau pergi kemana?adek ikut?" ucap christy, sudah terlihat air menggenang di pelupuk matanya.
Ayah reza tersenyum,"gak bisa sayang, adek harus pulang nak,mami nungguin adek disana." Tolak ayah dengan senyum masih bertengger di bibir nya, lalu mulai melangkah melepaskan genggaman tangan christy.
Christy berusaha untuk tidak lepas dari pegangannya, "lepas nak kiyang harus pergi,kiyang sayang adek, bilang juga sama mami dan niyang kalau kiyang sayang juga sama mereka, terimakasih untuk cucu kiyang yang cantik karena sudah hadir di kehidupan kiyang," ungkap ayah reza,lalu mengecup kening christy dan mulai melangkah kan kaki nya lagi. "kiyang sayang adek, jadilah anak yang baik yang mampu terus mengikat mami dan papi agar selalu bersama." Sambung ayah reza, lalu benar-benar melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi ke belakang dan mulai hilang sosok nya dalam pandangan christy yang juga mulai kabur.
”huuuehh...” Christy terbangun dengan nafas yang memburu,sisa-sisa air mata yang masih terasa di pelipis, lalu berusaha turun dari bed nya dengan bersusah payah berjalan menuju bed sang kakek yang tersekat oleh gorden, sampai nya disana tangis christy semakin kencang tak terbendung lagi.
Suster menghampiri christy,mencoba untuk menenangkan nya, ”sabar ya dek, ayo suster bantu kembali ke bed,adek masih harus istirahat.” ajak susternya
Christy yang sudah mengerti dengan apa yang terjadi didepannya, mengabaikan ajakan suster,dan segera berlari menghampiri tubuh kakek nya yang sudah terbebas dari alat-alat yang menempel sebelum nya, dengan air mata berjatuhan christy teriak memanggil sang kakek.
”kiyang bangun! jangan tinggalin adek!” dengan penuh emosi christy mengguncangkan tubuh kakeknya.
Suster segera memegang pundak christy dan sedikit menariknya, ”sudah dek, kakek nya sudah tiada biarkan dia beristirahat dengan tenang,adek juga harus memulihkan kesehatan, yuk suster temenin ke bed nya yuk?” papar suster,lalu mengajak christy ,tapi christy tepis tangan suster nya, ”enggak!” sentak christy.
”kiyang masih hidup, jangan copot alat-alat nya,aku mohon,” pinta christy terdengar sangat menyayat hati para suster.
Christy terus berusaha membangunkan tubuh yang sudah dingin dan tak bernyawa itu,mulai lelah dengan usahanya yang tidak membuahkan hasil akhirnya dia terduduk di lantai menumpukan kepalanya pada kedua lututnya dengan linang air mata yang tak terhenti.
Pintu terdorong dari dalam,sam yang menyadari hal itu segera menghampiri dokter nya yang sudah menampakkan diri,
Dokter andre menatap sendu ketiga nya.
”dengan berat hati saya sampaikan pada malam ini mr. rahardian telah menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 10 lebih 45 menit,” ungkap dokternya, lalu menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. ”kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan lebih sayang beliau, turut berduka cita saya ucapkan pada keluarga yang ditinggalkan, permisi.” lanjut dokter andre deengan perasaan sedih dan kecewa segera meninggalkan keluarga pasiennya yang sudah nangis tersedu-sedu sebelum ucapan pertamanya selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
PUTRI KECILKU
Fiksi PenggemarSeorang anak adalah anugerah yang tuhan titipkan untuk kita jaga sebaik mungkin. Waktu-Karir-Anak akan aku usahakan duniamu baik-baik saja.
