[ FOLLOW SEBELUM BACA ‼️]
Kenzo Antaleo, seorang pemuda tampan yang memiliki sifat cuek dan dingin tiba-tiba dipertemukan oleh seorang gadis bermata sipit saat pertama kali ia masuk SMA. Setelah pertemuan tersebut, ia menjadi sedikit dekat pada gadi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mau apa kamu?" Tanya Dikta pada pemuda yang ada dihadapannya sembari bersedekap dada.
Pemuda tersebut adalah Kenzo, ia ke rumah Dinda untuk menjemput gadis itu, tapi saat ia mengetuk pintu rumah gadis tersebut, yang keluar bukannya Dinda malah Papanya.
Kenzo tersenyum canggung. "Saya mau jemput Dinda, Om. Dindanya ada?"
"Ada, tapi saya tidak mengizinkan putri saya dekat dengan kamu lagi." Ujar Dikta tegas dengan wajah serius.
Mendengar itu, Kenzo sedikit mengepalkan tangannya kuat. "Saya sudah minta maaf atas kesalahan saya sama Dinda, dan dia sudah memaafkan saya. Jika itu yang menjadi alasan Om ingin menjauhkan saya dari Dinda." Jelasnya pada Papa Dinda.
"Kamu pikir saya sebagai Papanya tidak marah dengan kelakuan kamu? Putri saya memang memaafkan kamu, tapi saya? Saya tidak suka dengan seseorang yang sudah membuat putri saya menangis,"
Terdengar dengusan kesal Dikta. "Saya menyayangkan sekali sifat putri saya yang pemaaf."
"Kalo gitu saya minta maaf atas kelakuan saya yang sudah saya lakukan sama anak, Om. Tolong maafkan kesalahan saya, akan saya buktikan jika kejadian waktu itu adalah pertama dan terakhir kalinya saya membuat Dinda menangis." Ujar Kenzo mantap dengan wajah penuh keseriusan.
Dikta mengangkat sebelah alisnya sembari menatap pemuda yang ada di hadapannya serius. "Kamu pikir saya akan percaya dengan ucapan kamu? Kamu itu masih remaja labil, ucapannya pun belum bisa di pegang. Sebaiknya kamu berangkat saja, Dinda akan berangkat bersama saya seperti biasa."
"Om sa—"
"Hati-hati Kenzo, kalo gitu saya masuk dulu." Sela Dikta sembari menutup kembali pintu utama rumahnya.
Sedangkan Kenzo yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang. Oke ini baru awal, sepertinya Papa Dinda ingin dirinya memperjuangkan putrinya.
..
"Hai!"
Dinda menoleh terkejut saat melihat penampakan Kenzo yang sedang bersandar pada pilar gerbang sekolah.
"Ngapain lo?" Tanya nya heran.
Kenzo tersenyum tipis sembari menegakkan tubuhnya. "Nungguin lo lah."
"Nungguin gue? Ngapain?"
"Mau mastiin lo dateng dengan selamat aja." Sahut Kenzo.
Dinda sedikit mendengus mendengar itu. "Aneh, lo kenapa tiba-tiba berubah jadi hangat gini si?"
"Ya karena gue mau merjuangin lo." Ujar Kenzo gamblang.
Pipi Dinda sontak memerah mendengar itu.
Ga, ga, ga! Lo ga boleh baper Dinda, inget kata Papa harus jual mahal. Dinda menggelengkan kepalanya cepat sembari memejamkan mata.