[ FOLLOW SEBELUM BACA ‼️]
Kenzo Antaleo, seorang pemuda tampan yang memiliki sifat cuek dan dingin tiba-tiba dipertemukan oleh seorang gadis bermata sipit saat pertama kali ia masuk SMA. Setelah pertemuan tersebut, ia menjadi sedikit dekat pada gadi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dinda." Panggil Adnan khawatir sembari berlari mendekati sang sepupu yang sekarang sedang berjongkok dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Dinda mendongak lalu ia langsung bangkit dan menubruk tubuh sepupunya dengan pelukan. "Gu-gue takut hiks."
Adnan mengusap kepala gadis itu lembut. "Sssttt, sekarang udah ada gue, lo tenang aja oke..." Ucapnya menenangkan.
"Kenzo jahat," Cicit gadis itu mengadu masih dengan terisak.
"Dia ga jahat, tapi brengsek." Tekan Adnan lalu cowok itu menangkup wajah sepupunya.
"Udah gausah nangis lagi ya? Sayang air mata lo kalo cuma buat nangisin cowok brengsek,"
Dinda melengkungkan bibirnya kebawah. "Tapi hati gue masih sesek, gue masih pengen nangis," Ujar gadis itu dengan air mata yang terus turun.
"Yaudah terusin nangisnya, mau sambil motoran gak biar lo bisa teriak sepuas lo?" Tawar cowok itu.
Dinda mengangguk. "Tapi gue ga mau teriak, malu,"
"Nangis gini emang ga malu?" Ejek Adnan bermaksud mengalihkan mood sang sepupu.
Dinda menatap Adnan marah tak lama kemudian senyum tipis terbit di bibirnya. "Makasih ya, untung ada lo."
Adnan tersenyum hangat. "Iya dong, gue kan abang." Ucapnya sombong.
Dinda terkekeh kecil, lalu ia menghapus air matanya kasar. "Gue gak mau nangis karena cowok lagi!" Tekadnya kuat.
Adnan mengapit hidung gadis itu pelan. "Pinter! Jangan mau dibikin nangis sama cowok."
Dinda mengangguk semangat. "Siap, Abang!"
Setelah itu, tawa keduanya mengudara.
Setidaknya dengan kehadiran Adnan, kesedihan Dinda dapat teralihkan, atau semoga saja bisa langsung hilang.
Dari dulu hingga sekarang sosok Adnan tidak pernah berubah, selalu menjadi orang dengan garda terdepan yang menghiburnya saat ia sedih.
"Lo itu saudara satu persusuan sama gue Dinda, liat lo sedih gini bikin hati gue ikut sakit." Bisik Adnan lirih.
Mendengar itu, hati Dinda langsung menghangat. Karena Adnan, ia dapat merasakan sosok Abang dari kecil, mungkin jika tidak ada dia, ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hangatnya sosok seorang Abang.
Ia sangat sayang dengan cowok itu walaupun ia tidak pernah mengucapkannya secara langsung lantaran gengsi.
∘˚˳° 。☆
Kenzo sampai di sekolah setelah mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, cowok itu turun dari motor dengan nafas yang sedikit naik turun lantaran ia tengah dilanda rasa cemas dan khawatir.
Cowok itu mencari keberadaan Dinda, matanya mengitari setiap penjuru sekolah dengan tajam dan teliti berharap bisa menemukan sosok yang sedang dicarinya.