Sejak hari itu, Jevian memutuskan untuk kabur ke Malang. Lelaki itu meninggalkan kuliah dan proposal penelitiannya. Bahkan dirinya menonaktifkan ponsel selama di sana. Ia membutuhkan ruang untuk sendiri.
Sudah hampir dua minggu Jevian absen kuliah dan juga absen bertemu dengan Nadia. Lelaki itu memerlukan sang ayah sebagai orang yang bisa menjadi penengah masalahnya.
"Kamu kapan mau kembali ke Bogor?" tanya Ayah ketika melihat Jevian memasak mi instan. "Gak cemburu kalau teman-teman kamu sudah seminar proposal?"
"Masih ada dua minggu lagi, Yah, buat terakhir daftar sempro," kata Jevian.
"Butuh berapa lama lagi kamu yakin dengan perasaanmu?" Ayah mendudukkan dirinya ketika Jevian memberikan segelas kopi. "Kamu sebenarnya sudah jatuh cinta dengan Nadia, jangan mengelak lagi."
Jevian menghela napasnya pelan. Semenjak awal lelaki itu berada di rumah, sang ayah memang sudah memberi solusi atas masalahnya.
"Loh, Jean. Kamu sudah pulang? Sudah libur?" Ayah membuka pintu dan melihat Jevian berdiri di depannya. Kondisi anak itu terlihat kacau karena Jevian sama sekali belum tidur seharian.
Keesokannya Ayah membelikan Jevian buah semangka yang biasanya bisa membuat mood Jevian meningkat. Namun hari itu Jevian bahkan tidak tertarik dengan keberadaan si buah.
"Yah?" panggil Jevian setelah keduanya berdiam diri di ruang TV, menonton film favorit mereka.
"Kenapa, Anak Ayah?"
"Jean cinta sama Nadia ya?" tanya Jevian pada ayahnya membuat sang ayah tertawa.
Ternyata Jevian pulang karena ada permasalahan dengan anak perempuannya itu—ingat kalau Ayah sudah menganggap Nadia sebagai anaknya.
"Aduh, jadi ini tuh tentang percintaan." Ayah berhenti tertawa ketika Jevian menatapnya penuh kesal. "Ya, Ayah mana tau kamu cinta Nadia atau tidak. Kamu sendiri yang bisa merasakan."
"Kata Dimas sama Rara, iya Jean jatuh cinta ke Nadia. Jean udah nyakitin Rara sama Nadia di sana, Yah."
Ayah melihat Jevian yang sepertinya betulan bingung dengan perasaannya.
"Coba kamu telaah perasaan kamu. Kedekatan kamu dan Nadia bisa dibilang hanya sebatas sahabat atau memang lebih dari sahabat?"
Jevian hanya mendengarkan seraya berpikir.
"Rasa peduli kamu pada Nadia apakah lebih besar daripada peduli kamu pada Rara?"
"Apa yang kamu rasakan ketika melihat Nadia dengan laki-laki lain yang bukan kamu?"
"Apa kamu baik-baik saja kalau nantinya Rara hidup bersama orang lain?"
"Apa benar perasaanmu pada Rara sudah tidak lagi sama?"
"Jujur dengan perasaan kamu. Renungkan selama yang kamu mau, jangan sampai kamu menyesal. Apakah yang kamu cintai itu Nadia atau Rara. Ayah cuma bisa dukung kamu, siapapun yang kamu cintai. Keduanya sama-sama anak baik di mata Ayah."
.
.
Jevian akhirnya kembali ke kontrakan setelah dua minggu ia menghilang—pulang. Selama itu pula teman-temannya selalu menanyakan kabar, terutama Dimas dan Zaid. Meskipun menyebalkan, tapi Dimas peduli dengan sahabatnya itu.
"Gue berangkat dulu ya," kata Zaid pada Dimas dan Amir yang sedang duduk di ruang santai.
"Hati-hati, Bro. Good luck!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beloved Friend [END]
Teen Fictioncw // harsh words Bagi Nadia, berteman dengan Jevian adalah hal yang patut ia syukuri. Jevian adalah orang yang baik dan tidak pernah memandang rendah orang lain. Sifatnya itulah yang perlahan membuat Nadia jatuh suka. Di samping itu, ada sosok lela...
![My Beloved Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/352949875-64-k815624.jpg)